Jakarta, SeputarSumut — Kebiasaan menyimpan sisa makanan untuk disantap kembali ternyata tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena adanya risiko kesehatan. Anda sebaiknya berpikir ulang sebelum memutuskan untuk mengamankan makanan yang tidak habis karena alasan sayang untuk dibuang.
Terdapat kategori hidangan tertentu yang justru dianggap jauh lebih berbahaya bagi tubuh apabila dikonsumsi setelah disimpan dalam jangka waktu lama. Jenis makanan apa sajakah yang masuk dalam daftar waspada tersebut?
Pernik Ragam: Bahaya Mengonsumsi Makanan Sisa Simak Daftar Menu yang Berisiko Bagi Kesehatan
Fenomena lapar mata sering kali membuat seseorang memasak atau membeli hidangan dalam porsi berlebihan karena khawatir merasa kurang. Namun pada akhirnya makanan tersebut sering kali tersisa di meja makan akibat perut yang sudah merasa terlalu kenyang.
Penting untuk dipahami bahwa tidak semua jenis kuliner memiliki karakteristik yang sama dalam hal ketahanan. Beberapa jenis menu sangat dianjurkan untuk segera dibuang jika tidak habis karena potensi keracunan makanan menjadi ancaman utama jika Anda memaksakan diri menyimpannya.
Masalah keracunan umumnya dipicu oleh paparan bakteri jamur atau patogen berbahaya lainnya pada asupan yang kita konsumsi. Kesalahan dalam metode penyimpanan sisa makanan menjadi salah satu faktor kunci yang memicu kontaminasi zat berbahaya tersebut.
Berdasarkan rangkuman dari berbagai sumber medis terdapat beberapa jenis makanan sisa yang sangat tidak disarankan untuk disimpan guna dikonsumsi di kemudian hari.
1 Nasi
Kandungan pati dan kelembapan yang tinggi menjadikan nasi sebagai tempat berkembang biak yang sangat ideal bagi mikroorganisme menurut laporan All Recipes. Ancaman utama berasal dari bakteri Bacillus cereus yang mampu menghasilkan spora tahan panas sehingga tetap bertahan meski suhu sedang tinggi.
Pertumbuhan bakteri ini akan memasuki zona bahaya saat makanan berada di suhu ruangan antara 5 hingga 57 derajat Celcius. Pada rentang suhu inilah mikroba jahat mulai mengontaminasi struktur nasi dengan sangat cepat.
Ahli gizi Clark Casarella menjelaskan bahwa jumlah bakteri bisa berlipat ganda hanya dalam waktu 15 sampai 20 menit jika nasi dibiarkan di suhu yang tidak tepat. Ia menambahkan bahwa dalam satu jam jumlah bakteri tersebut bahkan bisa melonjak hingga delapan kali lipat dari jumlah semula.
Meskipun Anda mencoba memanaskannya kembali nasi tetap berpotensi menjadi sarang bagi Bacillus cereus yang resisten terhadap suhu panas. Risiko yang sama juga mengintai sumber karbohidrat lainnya yang memiliki tekstur serupa seperti pasta dan kentang.
Nasi pada dasarnya adalah pati yang basah sehingga jika dibiarkan tanpa penanganan yang benar akan menunjukkan pertumbuhan bakteri yang sangat masif menurut penjelasan Casarella.
2 Piza
Potensi keracunan makanan juga bisa muncul dari piza yang sudah matang melalui berbagai cara termasuk saat kondisinya sudah mulai basi. Hal ini sering kali diabaikan karena piza dianggap sebagai makanan yang cukup praktis untuk disimpan.
Mengutip The Independent selain faktor adonan tepung penggunaan rempah kering seperti oregano yang ditaburkan di atas piza juga sangat rentan terhadap serangan mikroba. Kontaminasi ini biasanya terjadi akibat prosedur penyimpanan yang tidak memenuhi standar kebersihan.
Beberapa jenis patogen mematikan diketahui mampu bertahan hidup pada rempah kering tersebut termasuk bakteri Salmonella dan Bacillus cereus. Keduanya merupakan pemicu utama gangguan pencernaan dan keracunan serius.
Proses pemanasan ulang tidak selalu menjamin keamanan karena rempah kering yang sudah terlalu lama berada di suhu ruangan dapat menjadi tempat tinggal sempurna bagi kuman. Hal ini membuat piza sisa menjadi sangat berisiko bagi sistem imun manusia.
Solusi terbaik agar piza tetap aman dikonsumsi kembali adalah dengan memasukkannya ke dalam lemari es maksimal dua jam setelah disajikan. Pastikan piza diletakkan dalam wadah yang kedap udara dan segera dihabiskan dalam kurun waktu tidak lebih dari dua hari.
3 Ayam
Daging ayam yang sudah diolah diketahui memiliki sifat yang sangat mudah rusak segera setelah suhunya mendingin. Tingginya kadar nutrisi dan air serta tingkat keasaman yang rendah menjadi faktor pendukung utama bagi pertumbuhan bakteri penyebab penyakit.
Penerapan cara penyimpanan yang benar menjadi sangat krusial terutama jika proses pengolahan awal daging ayam tersebut tidak matang secara sempurna. Ayam yang kurang matang menyimpan risiko kontaminasi bakteri yang jauh lebih besar bagi konsumennya.
Pertumbuhan kuman di dalam jaringan daging dapat terus berlangsung meskipun makanan tersebut sudah dimasukkan ke dalam kulkas apabila ada bagian kecil yang tidak matang total. Oleh karena itu ketelitian dalam memasak dan menyimpan daging ayam harus menjadi prioritas utama.(*/cnni)


