Medan, SeputarSumut — Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara resmi membuka perhelatan Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU) 2026 di Deli Park Mall, Medan, yang berlangsung pada 15 hingga 26 Juli 2026. Agenda tahunan keenam ini menjadi sarana strategis dalam memperkuat ekosistem UMKM, ekonomi dan keuangan hijau serta syariah, investasi, pariwisata, hingga digitalisasi ekonomi daerah.
KKSU 2026 mengusung tema “Dari Lokal ke Global: Mendorong UMKM yang Inovatif, Inklusif, Berkelanjutan, dan Berdaya Saing Internasional”. Tema ini dipilih untuk memperkuat ekosistem UMKM daerah agar mampu berkembang dari pasar lokal menuju rantai nilai global. Langkah ini selaras dengan visi pembangunan Sumatera Utara dalam mewujudkan ekonomi unggul dan berdaya saing melalui kolaborasi antar pemangku kepentingan.
Berita Ekonomi: Bank Indonesia Dorong UMKM Sumatera Utara Tembus Pasar Internasional Lewat KKSU 2026
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Thomas A.M. Djiwandono, mengapresiasi ketahanan ekonomi nasional dan daerah di tengah ketidakpastian global. Perekonomian Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61% pada triwulan pertama tahun 2026 dengan tingkat inflasi terjaga di angka 3,08% pada Mei 2026. Sementara itu, Sumatera Utara juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang solid sebesar 4,98% (year-on-year) pada triwulan pertama.
“Menurut saya, ini capaian yang luar biasa di tengah kondisi ketidakpastian saat ini. Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pak Gubernur beserta pimpinan dan seluruh jajaran atas kinerja tersebut,” katanya.
Thomas menegaskan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama yang menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, peningkatan daya beli masyarakat dan dukungan penuh terhadap produk UMKM menjadi kunci utama keberlanjutan ekonomi. Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan digitalisasi dan memberikan insentif pembiayaan bagi sektor-sektor prioritas guna memperluas akses permodalan UMKM.
Program pembinaan UMKM di daerah ini dibalut dengan nama “Pengembangan UMKM Lokal Berdaya Saing”. Nama tersebut terinspirasi dari filosofi tradisi ulos masyarakat Batak, yang dimaknai sebagai upaya menyelimuti UMKM dengan pendampingan, pembinaan, akses keuangan, dan sinergi agar tumbuh mandiri serta berdaya saing tinggi.
Dari sisi sistem pembayaran digital, penetrasi QRIS di Sumatera Utara hingga triwulan pertama tahun 2026 telah menjangkau sekitar 1,73 juta pedagang (merchant). Capaian ini mendukung target nasional Bank Indonesia untuk merealisasikan 60 juta pengguna QRIS di tahun 2026. Pengembangan fitur QRIS Tanpa Tatap Muka (TJS) dan QRIS Cross-Border juga terus didorong untuk menaikkan efisiensi transaksi, perluasan pasar, dan akses pembiayaan berbasis data pembayaran.
Melalui penyelenggaraan KKSU 2026, Bank Indonesia berharap lahir ide-ide kreatif serta terjalin kemitraan antara UMKM dengan investor maupun pasar internasional. Apalagi, kegiatan ini telah mencatatkan capaian potensi transaksi yang mendekati angka Rp83 miliar.
“Semoga pada tahun-tahun berikutnya capaian ini dapat terus berkembang,” ucap Thomas.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Ameriza M. Moesa, menjelaskan bahwa KKSU merupakan kegiatan tahunan yang dirintis sejak tahun 2020. Acara ini dirancang khusus untuk menjembatani pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dengan calon investor.
Pada perhelatan tahun 2026, sinergi transaksi retail serta pembiayaan business matching dengan pembeli global dan agregator telah menghasilkan angka transaksi awal serta komitmen pembiayaan lebih dari Rp83 miliar. Hasil tersebut menjadi dorongan agar UMKM terus terfasilitasi dan terhubung ke dalam ekosistem bisnis modern.
“Capaian tersebut tentunya menjadi motivasi kita bersama agar UMKM dapat terus mampu menembus pasar internasional, tetap terfasilitasi pembiayaannya, serta terhubung dengan ekosistem bisnis modern,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, menyampaikan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% yang ditetapkan Presiden Republik Indonesia. Guna mendukung target tersebut, Sumatera Utara diproyeksikan memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi daerah di kisaran 6,7% hingga 7,1%.
Bobby menekankan pentingnya menggerakkan sektor swasta dan potensi dalam negeri untuk menutup keterbatasan belanja pemerintah (government spending). Produk kreatif, kriya, serta kuliner Sumatera Utara dinilai memiliki kualitas tinggi dan siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Di Sumatera Utara, kita memiliki potensi luar biasa. Contohnya di bidang kuliner: orang bilang di Sumatera Utara ini cuma ada dua rasa makanan, yaitu ‘enak’ dan ‘enak sekali’,” tuturnya.
Namun, Bobby menyoroti tantangan pelaku UMKM yang belum terbiasa menjual potensi usaha kepada investor serta masuk ke jejaring industri. Kehadiran KKSU dinilai sangat strategis karena membuka ruang pertemuan langsung antara UMKM, investor, dan pihak industri guna mengubah tantangan pasar global menjadi peluang pasti.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berencana menjalin kerja sama dengan Bank Indonesia dalam pendampingan penyusunan dokumen studi kelayakan (Feasibility Study/FS). Fasilitasi ini dinilai krusial agar UMKM tidak lagi mengalami kesulitan saat mengajukan pembiayaan perbankan atau investasi, sehingga standar usaha mereka benar-benar naik kelas.
“Pendampingan ini penting agar standar usaha mereka benar-benar naik kelas,” pungkasnya.(Siong)

