Kamis, Juli 2, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
Iklan PT Indako Trading Coy
Beranda Ragam

Begini Sejarah Kue Keranjang Selalu Hadir saat Imlek

Oleh Redaksi 15
Sabtu, 10 Februari 2024
Foto: Kue keranjang.

Kue keranjang.

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

seputar – Medan | Tiap pergantian tahun, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia merayakan Imlek. Tahun ini, perayaan Imlek 2024 jatuh pada Sabtu, 10 Februari 2024.

Berbagai kegiatan hingga ritual keagamaan dilakukan selama hari raya umat Konghucu ini. Aneka makanan lezat pun juga hadir, salah satunya kue keranjang.

Pernik Ragam: Begini Sejarah Kue Keranjang Selalu Hadir saat Imlek

Iklan Indako SeputarSumut

Kue keranjang kerap dibeli atau dibuat masyarakat Tionghoa untuk disantap atau keperluan sembahyang. Nah, apakah detikers tahu sejarah di balik panganan berbentuk bundar satu ini?

Yuk, simak sejarah kue keranjang yang selalu ada di perayaan Imlek di bawah ini. Katanya, bermula karena makhluk monster, lo!

Sebelum mengetahui sejarah kemunculannya, mari berkenalan dulu dengan kue keranjang. Kue seperti apa, sih, makanan satu ini?

Berita Terkait

Ragam Manfaat Rebusan Daun Bawang untuk Kesehatan Tubuh dan Cara Mengolahnya

Panduan Batas Aman Konsumsi Kafein Bagi Ibu Menyusui dan Daftar Minuman yang Perlu Diwaspadai Menurut WebMD

Dalam bahasa Mandarin, kue keranjang dikenal sebagai nián gāo (年糕). Sementara itu, dalam bahasa Hokkien, ia dikenal dengan julukan ti kwe (甜棵).

Jika diterjemahkan secara harfiah, nian (年) berarti ‘tahun’ dan gao (糕) bermakna ‘kue’. Bila disatukan, nian gao dapat diterjemahkan sebagai ‘kue tahun baru’.

Kue berbentuk bundar dengan warna cokelat ini terbuat dari tepung beras ketan dan gula. Kedua bahan tersebut lantas dicampur dengan air.

Setelah tercampur, adonan dikukus berjam-jam sampai tercipta karamel berwarna cokelat tua. Dari proses masak tersebut, diperoleh makanan bertekstur kenyal dan lengket dengan cita rasa manis.

Seminggu sebelum perayaan Tahun Baru Imlek, masyarakat Tionghoa mulai menyajikan kue keranjang sebagai sesaji untuk keperluan sembahyang. Pada periode tersebut, kue masih belum boleh dimakan.

Baru selepas malam ke-15 Imlek, kue keranjang dapat disantap sepuasnya. Dalam kebudayaan Tionghoa, malam Imlek yang ke-15 dikenal dengan istilah Cap Go Meh.

Sebagai informasi pula, di Indonesia, kudapan yang tak pernah absen selama Imlek ini memiliki banyak nama. Ada orang yang menyebutnya sebagai kue bakul.

Walaupun disebut kue, panganan ini tidak bertekstur lembut maupun empuk. Malahan, kue keranjang lebih mirip dodol. Itulah mengapa dodol china menjadi sebutannya yang lain.

Sejarah Kemunculan Kue Keranjang

Sejarah kemunculan nian gao sarat akan mitos dan legenda. Nah, berikut sederet versi tentang sejarah kue keranjang menurut kepercayaan orang Tiongkok:

Versi 1: Dipersembahkan untuk Dewa Tungku

Mengenai asal-usul kemunculan kue bakul, kebanyakan bersumber dari legenda ataupun mitos yang populer di tengah masyarakat. Legenda pertama menyebutkan, makanan khas Imlek ini merupakan hidangan yang sengaja dipersembahkan untuk Dewa Tungku (Cau Kun Kong).

Orang Tionghoa percaya bahwa anglo (tempat masak) di setiap rumah dihuni oleh Dewa Tungku. Dewa tersebut dikirim oleh Raja Surga (Giok Hong Siang Te) untuk mengawasi perilaku penghuni rumah dalam membuat masakan sehari-hari.

Setelah menjalankan tugasnya, Dewa Tungku akan kembali ke surga untuk memberi laporan ke Raja Surga. Sang dewa akan selalu pulang setiap tanggal 24 di bulan ke-12 kalender cina, yakni H-6 perayaan Imlek.

Nah, supaya laporan yang diserahkan oleh sang dewa baik, masyarakat Tionghoa terdahulu sengaja menyiapkan kue bakul. Teksturnya yang lengket mampu mencegah Cau Kun Kong dari mengatakan hal-hal buruk tentang keluarga tempat ia ditugaskan.

Legenda itulah yang menjadi alasan masyarakat etnis Tionghoa memasak banyak kue keranjang sebelum Tahun Baru Imlek.

Versi 2: Nian, Raksasa Pemakan Manusia

Legenda lain meyakini, terciptanya kue bakul bermula dari keberadaan seekor monster dataran Tiongkok bernama Nian. Menurut kepercayaan masyarakat, nama Nian sendiri diambil dari gunung ia berada. Monster berupa raksasa ini menghuni sebuah gua di gunung tersebut.

Nian sebenarnya memangsa hewan. Namun, semasa musim dingin, para hewan bersembunyi dan berhibernasi. Alhasil, si raksasa beralih memburu manusia untuk dijadikan santapannya.

Masyarakat yang hidup di tempat Nian berada tentu merasa ketakutan. Hingga akhirnya, seseorang bernama Gao dari desa tersebut datang dengan ide cemerlang.

Dirinya membuat sebuah kue yang terbuat dari campuran gula dan tepung beras ketan. Setelah jadi, kue tersebut diletakkan di depan pintu rumah untuk menyambut si raksasa.

Jadi, alih-alih memangsa manusia, Nian yang datang akan menyantap kue buatan Gao sampai dirinya kenyang. Karena kejadian tersebut, kue berbahan tepung ketan gula tersebut dijuluki nian gao alias kue keranjang.

Berdasarkan legenda tadi, detikers bisa paham bahwa masyarakat Tionghoa tidak absen membuat kue bakul setiap Tahun Baru Imlek guna menghindari serangan Nian.

Versi 3: Sebuah Kue untuk Memperingati Wu Zixu

Sementara itu, kisah lain menceritakan, kue bakul muncul sepeninggalan jenderal dan politisi Kerajaan Wu, Wu Zixu. Dirinya menjabat selama periode Musim Semi dan Gugur (771-476 SM).

Selepas kematian Wu Zixu, Raja Yue, Goujian, menyerang ibu kota Wu. Akibat dari serangan tersebut, banyak penduduk yang mati karena kelaparan.

Di tengah-tengah kondisi genting tersebut, ada seseorang yang teringat dengan perkataan Wu Zixu. Ketika masih hidup, ia berpesan agar orang-orang pergi ke tembok kota dan menggali sedalam tiga kaki untuk mendapatkan makanan.

Kawanan tentara Wu lantas melakukannya. Mereka kemudian menemukan bahwa fondasi dari tembok yang disebutkan Wu Zixu ternyata disusun oleh batu bata berbahan tepung ketan.

Penemuan makanan tersebut berhasil menyelamatkan orang-orang dari kelaparan. Untuk mengenang jasa Wu Zixu, masyarakat pun membuat nian gao. Kebiasaan membuat nian gao itu ternyata awet hingga sekarang. (detik)

Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • Bazar UMKM Ramaikan APEKSI di Medan, PWPM Ikut Gerakkan Ekonomi Lokal
  • Laba Bersih PTPN IV PalmCo Melonjak 90 Persen Capai Rp7,08 Triliun pada 2025
  • HUT ke-436 Kota Medan: Stasiun Medan Layani 913 Ribu Pelanggan Selama Semester Pertama 2026
  • Pilihan Warna Baru New Honda BeAT Meluncur Simak Perubahan Desain dan Daftar Harganya
  • Kecelakaan Lalu Lintas di Tikungan Siahaan Toba Dua Mobil Terlibat Tabrakan dan Dua Pengemudi Dilarikan ke Rumah Sakit
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial

@ 2020 SeputarSumut.com