Jakarta, SeputarSumut — Kawasan Eropa saat ini tengah merasakan imbas besar dari ketegangan di Iran walaupun sejak awal mereka tidak menginginkan terjadinya peperangan tersebut. Langkah politik yang diambil Presiden Amerika Serikat Donald Trump dianggap justru memberikan beban berat kepada para sekutu di Eropa terutama mengenai dampak energi serta stabilitas geopolitik.
Melalui pernyataan resminya Trump mendesak agar negara negara Eropa berperan lebih aktif dalam mengamankan Selat Hormuz yang merupakan jalur krusial bagi distribusi seperlima minyak dunia.
Dunia Internasional: Dampak Konflik Iran Bagi Eropa Kebijakan Trump Bebani Sekutu Terkait Pasokan Energi dan Keamanan Selat Hormuz
Silakan pergi ke selat tersebut lalu ambil alih serta lindungi untuk kepentingan kalian sendiri ungkap Trump dalam pidatonya pada Rabu 1 4 sebagaimana dilansir dari CNN.
Sikap ini mengindikasikan adanya pergeseran strategi Amerika Serikat di Timur Tengah yang kini cenderung melimpahkan tanggung jawab kepada pihak sekutu. Richard Haass selaku Presiden Emeritus Council on Foreign Relations menilai fenomena ini sebagai pembalikan dari prinsip lama yang selama ini dipegang.
Ia menjelaskan bahwa dahulu prinsip yang berlaku adalah siapa yang merusak maka dia yang bertanggung jawab namun kini berubah menjadi kami yang merusak tetapi kalian yang harus menanggung risikonya.
Eropa kini berada di titik yang sangat sulit karena mereka harus ikut memperbaiki keadaan meski tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan untuk berperang.
Kritik tajam terhadap langkah tersebut juga datang dari mantan Duta Besar AS untuk NATO Ivo Daalder.
Daalder menyatakan bahwa Presiden memulai peperangan tanpa melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan Kongres rakyat Amerika maupun para sekutu.
Guncangan pada sektor energi menjadi dampak paling nyata bagi Eropa menyusul terganggunya aliran pasokan dari Selat Hormuz. Hal ini memperparah kondisi kawasan tersebut yang sebenarnya belum pulih total dari krisis energi akibat perang Rusia Ukraina tahun 2022.
Potensi lonjakan biaya energi di Uni Eropa turut diperingatkan oleh lembaga think tank Bruegel karena negara negara anggota harus berebut mendapatkan sumber pasokan alternatif.
Komitmen Uni Eropa untuk memutus ketergantungan pada energi dari Rusia juga terancam goyah akibat krisis yang sedang berlangsung. Di tengah tekanan harga yang melambung tinggi beberapa pihak mulai mempertanyakan kembali urgensi kebijakan tersebut.
Bahkan Perdana Menteri Belgia Bart De Wever sempat melontarkan gagasan untuk menormalisasi hubungan dengan Rusia agar bisa memperoleh energi murah walaupun pernyataan itu menuai banyak kritik.
Selain persoalan energi stabilitas hubungan transatlantik kini berada di ujung tanduk. Trump bahkan memberikan sinyal untuk menarik Amerika Serikat keluar dari NATO dengan alasan sekutu tidak memberikan dukungan yang memadai.
Menurut Trump para sekutu tersebut tidak menunjukkan sikap sebagai teman di saat Amerika sedang membutuhkan bantuan.
Krisis kepercayaan antara Amerika Serikat dan Eropa dinilai semakin dalam akibat pernyataan tersebut. Daalder menekankan bahwa kekuatan aliansi militer sangat bersandar pada rasa percaya yang saat ini justru mulai luntur.
Sangat sulit untuk membayangkan negara negara di Eropa masih bisa menaruh kepercayaan penuh kepada Amerika Serikat untuk melindungi mereka tutur Daalder.
Menghadapi situasi yang semakin tidak menentu beberapa pemimpin di Eropa mulai menunjukkan sikap yang lebih berani. Emmanuel Macron selaku Presiden Prancis menganggap ide penggunaan kekuatan militer untuk membuka Selat Hormuz sebagai hal yang tidak masuk akal.
Macron menegaskan jika ingin bertindak serius maka jangan mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan dari hari ke hari.
Saat ini Eropa sedang berupaya keras untuk memangkas ketergantungan mereka terhadap Amerika Serikat baik dalam aspek pertahanan maupun energi. Sebagai langkah antisipasi terhadap krisis serupa di masa depan kawasan tersebut juga terus mempercepat proses transisi menuju penggunaan energi terbarukan.(*/cnni)


