Jakarta, SeputarSumut — Proses pemindahan jenazah dari Posko Lapangan SAR di Sanggau menuju Pontianak dipercepat dengan mengerahkan Helikopter Super Puma dari Lanud Supadio. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh korban segera sampai di tujuan dengan efisiensi waktu yang lebih baik dibandingkan jalur lainnya.
Penerbangan menuju lokasi penjemputan di Lapangan Yonif 642 menghabiskan waktu sekitar 45 menit perjalanan udara. Setelah tiba di sana, seluruh korban langsung diterbangkan menuju Rumah Sakit Anton Soedjarwo Bhayangkara di Pontianak untuk mendapatkan penanganan medis dan identifikasi lebih lanjut.
Lintas Nasional: Evakuasi Jenazah Korban Helikopter Jatuh di Sekadau Selesai Dilakukan Tim SAR Gabungan
Kabar duka mengenai identitas para korban dirilis secara resmi oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kemenhub, yang mengonfirmasi adanya delapan orang di dalam helikopter tersebut. Dari daftar nama yang ada, salah satu korban diketahui merupakan warga negara Malaysia.
Berdasarkan pernyataan dari Dirjen Hubud Kemenhub, Lukman F Laisa pada Jumat siang, helikopter itu diawaki oleh Kapten Marindra Wibowo sebagai pilot dan Harun Arasyid sebagai engineer. Selain mereka, terdapat enam penumpang lainnya yakni Mr. Patrick K. yang merupakan warga negara Malaysia, serta Mr. Victor T, Mr. Charles L, Mr. Joko C, Mr. Fauzie O, dan Mr. Sugito.
Tim SAR gabungan telah menyelesaikan tugas berat mereka dengan berhasil mengevakuasi seluruh korban helikopter jatuh yang berjumlah delapan orang di wilayah Sekadau, Kalimantan Barat. Semua korban kini telah berhasil diangkat dari titik jatuhnya pesawat.
Upaya koordinasi terus dilakukan oleh Ditjen Hubud bersama AirNav Indonesia dan berbagai instansi terkait untuk mendukung kinerja Basarnas dalam menangani dampak kecelakaan ini. Lukman F Laisa juga menyampaikan rasa belasungkawa yang sangat mendalam kepada pihak keluarga yang ditinggalkan oleh para korban.
Kronologi jatuhnya helikopter EC 130 T2 dengan register PK-CFX yang dioperasikan PT Matthew Air Nusantara juga dibeberkan oleh pihak kementerian. Helikopter tersebut sedang menempuh rute dari Helipad PT Cipta Mahkota menuju Helipad PT Graha Agro Nusantara 1 di Kabupaten Sanggau saat peristiwa nahas itu terjadi.
Data penerbangan menunjukkan bahwa pesawat lepas landas pada pukul 07.37 WIB, namun sekitar satu jam kemudian atau pukul 08.39 WIB, sinyal darurat terdeteksi dari tengah hutan Kalimantan Barat. Pada pukul 09.15 WIB pesawat dinyatakan hilang kontak hingga akhirnya AirNav Indonesia mengeluarkan notifikasi darurat resmi pada pukul 10.43 WIB.
Sebelum dikirim ke Pontianak, tim gabungan terlebih dahulu menurunkan seluruh jenazah dari puncak bukit lokasi kecelakaan menuju Posko Lapangan di Sanggau pada Jumat subuh sekitar pukul 05.00 WIB. Setelah berada di posko, jasad para korban kemudian dipindahkan ke dalam kantong jenazah untuk proses selanjutnya.
Setibanya di posko bawah, kedelapan jenazah dipindahkan ke mobil ambulans tepat pada pukul 05.52 WIB. Sebanyak delapan armada ambulans kemudian bergerak menuju markas Yonif 642/Kapuas di Sanggau pada pukul 06.05 WIB dengan mendapatkan pengawalan yang sangat ketat dari aparat kepolisian.
Rencana awal evakuasi sebenarnya akan menggunakan jalur darat dengan perkiraan waktu tempuh mencapai 3 jam 30 menit menuju Pontianak. Namun, demi kecepatan dan efektivitas, skema tersebut akhirnya diubah dengan memanfaatkan moda transportasi udara menggunakan helikopter milik TNI AU.
Pencarian yang dilakukan secara intensif oleh Basarnas dan tim gabungan akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya titik koordinat jatuhnya helikopter. Sayangnya, saat tim mencapai lokasi, seluruh awak dan penumpang ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia di tempat kejadian.(*/cnni)


