Jakarta, SeputarSumut — Merespons guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 yang melanda wilayahnya Pemerintah Kabupaten Flores Timur di Nusa Tenggara Timur resmi memberlakukan status tanggap darurat bencana selama empat bulan ke depan.
Keputusan krusial ini diambil setelah melalui rapat koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Flores Timur dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah pada 9 April 2026 sehingga masa tanggap darurat berlaku efektif sejak tanggal tersebut hingga 8 Juli 2026.
Lintas Nasional: Flores Timur Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi Selama Empat Bulan
Maria Goretty Nemo selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur menegaskan melalui keterangan tertulis pada Minggu 12 April bahwa ketetapan mengenai status tanggap darurat bencana alam ini akan terus berjalan hingga awal Juli mendatang.
Prioritas utama BPBD selama periode darurat ini adalah menyalurkan bantuan logistik dasar mulai dari tenda hingga alas tidur bagi para pengungsi di sepuluh desa terdampak sembari melakukan pendataan menyeluruh terhadap tingkat kerusakan bangunan.
Maria menjelaskan bahwa bantuan difokuskan kepada warga terdampak yang saat ini tersebar di berbagai titik pengungsian baik yang menumpang secara mandiri di rumah kerabat yang lebih aman maupun yang berada di posko desa masing-masing.
Kendala distribusi masih menjadi tantangan di lapangan karena keterbatasan jumlah bantuan yang tersedia bahkan Maria mengungkapkan bahwa persediaan logistik di gudang saat ini ada yang sudah mulai habis.
BPBD Flores Timur kini tengah berupaya keras memenuhi kebutuhan mendesak para pengungsi yang meliputi ketersediaan air bersih alat mandi bahan pokok terpal tikar hingga perlengkapan khusus untuk bayi balita serta lansia.
Sejumlah kebutuhan yang sangat krusial saat ini antara lain adalah air bersih perlengkapan MCK sembako kasur lipat kursi roda hingga popok dewasa untuk menunjang kehidupan warga di lokasi pengungsian.
Lonjakan jumlah pengungsi tercatat terus bertambah hingga mencapai 1.659 jiwa yang kini mendiami berbagai fasilitas umum dan rumah warga di sepuluh desa yang terdampak guncangan gempa.
Data terbaru menunjukkan kenaikan signifikan dari sebelumnya 1.313 jiwa atau 285 kepala keluarga kini membengkak menjadi 371 kepala keluarga dengan tambahan laporan adanya 18 orang yang mengalami luka ringan.
Kerusakan infrastruktur akibat gempa yang terjadi pada Kamis dini hari 9 April tersebut mencakup 343 bangunan yang terdiri dari 332 unit rumah penduduk serta 11 unit fasilitas umum di berbagai titik.
Cakupan wilayah yang mengalami dampak kerusakan kini meluas dari delapan desa menjadi sepuluh desa yang terbagi di dua kecamatan utama yaitu tujuh desa di Kecamatan Adonara Timur dan tiga desa di Kecamatan Solor Timur.
Daftar desa di Adonara Timur yang terdampak meliputi Desa Terong Lamahala Jaya Karing Lamalouk Dawataa Ipi Ebang Bilal serta Kelurahan Waiwerang Kota sementara di Solor Timur mencakup Desa Moton Wutun Watobuku dan Labelen.
Desa Terong dan Desa Lamahala Jaya yang berada di wilayah Kecamatan Adonara Timur dilaporkan menjadi dua lokasi yang menderita kerusakan paling parah akibat guncangan tersebut.
Di Desa Terong sendiri tercatat sebanyak 110 rumah warga hancur beserta tiga fasilitas umum yang mencakup bangunan sekolah dasar Polindes dan musala dengan total warga terdampak mencapai 621 jiwa.
Kondisi serupa terlihat di Desa Lamahala Jaya dengan laporan 104 rumah warga mengalami kerusakan yang berdampak pada 544 jiwa serta empat fasilitas umum yang terdiri dari masjid musala dan dua sekolah.
Rangkaian bencana ini bermula ketika gempa bumi tektonik dengan kekuatan magnitudo 4,7 mengguncang wilayah Flores Timur NTT pada Kamis 9 April dini hari tepat pukul 00.17 WITA.(*/cnni)


