Jakarta, SeputarSumut — Dampak kerusakan yang dipicu oleh gempa berkekuatan magnitudo (M) 6,4 di wilayah Pacitan dilaporkan terus meluas oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur.
Satriyo Nurseno selaku Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur mengungkapkan bahwa efek guncangan ini menyentuh berbagai kabupaten di Jawa Timur dengan akumulasi kerusakan mencapai 69 bangunan.
Lintas Nasional: Gempa M 6,4 Pacitan Akibatkan Kerusakan Meluas
“Sebaran dampak gempa bumi meliputi Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kabupaten Madiun, Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Tulungagung,” tutur Satriyo pada Sabtu (7/2) malam.
Fasilitas umum, rumah penduduk, sekolah, tempat usaha, hingga bangunan ibadah termasuk dalam daftar 69 konstruksi yang terdampak. Tingkat kerusakan bervariasi dari kategori ringan, sedang, hingga berat, ditambah laporan satu warga yang meninggal dunia.
“Secara rinci, kerusakan pada sektor hunian dan bangunan umum terdiri dari 52 unit rusak ringan, 6 unit rusak sedang, dan 1 unit rusak berat,” paparnya lebih lanjut.
Sektor pelayanan publik dan pendidikan juga tidak luput dari terjangan gempa selain rumah tinggal. Tercatat sebanyak tiga unit sekolah mengalami kerusakan akibat peristiwa ini.
“SDN 3 Tamansari, MI GUPPI, dan SMPN 4 Sudimoro. Fasilitas umum lainnya yang terdampak meliputi Kantor PKK, Kantor Terpadu, dan area pemakaman umum,” jelas Satriyo.
Ia menambahkan bahwa terdapat pula kerusakan pada dua bangunan masjid serta dua tempat usaha yang terdiri dari sebuah kafe dan satu gudang penyimpanan.
Kabupaten Pacitan tercatat sebagai area yang mengalami dampak paling parah merujuk pada data yang telah dikumpulkan, dengan total 43 rumah warga mengalami kerusakan.
“Di Pacitan ada 38 rusak ringan, 4 rusak sedang, dan 1 rusak berat. Selain itu, sektor pendidikan di Pacitan juga terpukul dengan rusaknya tiga sekolah, yakni SDN 3 Tamansari, MI GUPPI, dan SMPN 4 Sudimoro, serta satu fasilitas umum berupa Kantor PKK,” ungkapnya.
Perluasan dampak juga terdeteksi di Kabupaten Ponorogo, di mana dilaporkan satu rumah rusak sedang, tiga rumah rusak ringan, serta kerusakan pada gudang penyimpanan, masjid, dan Kantor Terpadu.
Kondisi di Kabupaten Trenggalek menunjukkan sebanyak 7 unit rumah mengalami rusak ringan, yang diikuti oleh Kabupaten Blitar dengan 2 unit rumah rusak ringan, serta satu rumah rusak ringan di Kabupaten Nganjuk.
Kerusakan di Kota Blitar mencakup satu unit rumah kategori rusak sedang dan sebuah tempat usaha kafe. Sementara itu, di Kabupaten Madiun, guncangan merusak area pemakaman umum dan fasilitas publik berupa Masjid Jami Ibaadurrohmaan.
Satriyo menegaskan bahwa data tersebut saat ini masih bersifat dinamis dan sangat mungkin berkembang seiring berjalannya proses verifikasi lanjutan oleh petugas di lapangan.
Gempa Pacitan ini juga membawa kabar duka dengan meninggalnya seorang warga bernama Joko Santoso (53) asal Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, meski kematiannya bukan disebabkan tertimpa puing bangunan, melainkan akibat syok berat.
Saat lindu terjadi, korban sebenarnya berhasil menyelamatkan diri ke luar huniannya. Ia bahkan dilaporkan masih sempat berinteraksi dan berbincang dengan para tetangganya.
Namun, maut menjemput saat korban berniat masuk kembali ke dalam rumah; ia tiba-tiba terjatuh dan kehilangan kesadaran sesaat setelah bangkit dari posisi duduknya.
“Adanya korban jiwa di Kabupaten Pacitan dalam kejadian tersebut dikarenakan korban memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi dan mengalami syok setelah kejadian,” pungkas Satriyo.(*/cnni)


