Jakarta, SeputarSumut — Peristiwa alam berupa gempa tektonik dengan kekuatan magnitudo 5,0 dilaporkan kembali menggetarkan kawasan Laut Sulawesi yang masuk dalam wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Rabu (10/6). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan rilis resmi mengenai peristiwa tersebut yang tercatat mengudara pada sekitar pukul 08.54 WIB. Berdasarkan lembaran rilis data hasil kalkulasi analisis pihak BMKG, indikator kekuatan gempa bumi ini dikonfirmasi mengemas parameter pembaruan dengan kekuatan magnitudo M5,0.
Secara geografis, titik episenter dari gempa bumi tersebut berada pada posisi koordinat 5,59 derajat Lintang Utara serta 125,28 derajat Bujur Timur. Lokasi tersebut tepatnya berada di wilayah perairan laut dengan estimasi jarak sejauh 220 kilometer dari arah Barat Laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan tingkat kedalaman pusat gempa sedalam 54 kilometer.
Lintas Nasional: Gempa Magnitudo 5,0 Kembali Guncang Laut Sulawesi Tidak Berpotensi Tsunami
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser-naik (oblique thrust),” demikian keterangan BMKG dalam siaran pers, Rabu (10/6).
Merujuk pada catatan estimasi yang dipetakan melalui visualisasi tingkat guncangan atau shakemap, institusi BMKG mengumumkan bahwa efek getaran dari gempa bumi kali ini dirasakan nyata oleh publik dengan status skala intensitas III MMI di wilayah Kepulauan Marore, Kepulauan Sangihe, serta kawasan Miangas di Kepulauan Talaud. Selain itu, sebaran dampak gempa juga dirasakan oleh masyarakat setempat pada rentang skala intensitas II – III MMI di wilayah Kendahe, Kepulauan Sangihe.
“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI,” tulis BMKG.
Ditinjau dari rekam jejak riwayatnya, aktivitas gempa bumi yang melanda wilayah perairan ini dikategorikan ke dalam barisan rangkaian gelombang susulan atas peristiwa gempa bumi berkekuatan M7,7 yang sempat menghentak area Mindanao, Filipina, pada momen Senin (8/6) yang lalu.
Rentetan peristiwa gempa susulan dengan grafik kekuatan yang bergerak fluktuatif di kisaran magnitudo 3,8 sampai dengan 5,9 dilaporkan masih terus melanda wilayah Kecamatan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Selasa (9/6). Sampai dengan memasuki ambang batas waktu pukul 09.10 WIB pada hari ini, akumulasi data monitoring yang dihimpun oleh pihak BMKG memperlihatkan eksistensi sebanyak 218 daftar aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock, di mana rekor kekuatan paling masif terdokumentasi menyentuh angka M6,7.(*/cnni)

