Jakarta, SeputarSumut — Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan oleh BMKG hingga pukul 06.35 WIB, belum ditemukan adanya tanda-tanda aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock pasca guncangan utama tersebut. Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari lembaga terkait.
Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan pembaruan data terkait parameter gempa tersebut dengan kekuatan akhir yang tercatat pada magnitudo M5,5. Sebelumnya, informasi awal menyebutkan kekuatan gempa berada pada magnitudo M5,8.
Lintas Nasional: Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Bolaang Mongondow Selatan Tidak Berpotensi Tsunami
Kepastian mengenai dampak gempa disampaikan oleh Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, yang menegaskan bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempabumi ini sama sekali tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Pernyataan ini dikeluarkan untuk meredam kekhawatiran warga yang tinggal di sepanjang garis pantai Sulawesi Utara dan sekitarnya.
Peristiwa alam ini terjadi pada Sabtu pagi (18/4) saat gempa bumi berkekuatan cukup besar mengguncang wilayah Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara. Meskipun getaran terasa cukup kuat, otoritas setempat memastikan bahwa tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan akibat aktivitas tektonik ini.
Melihat pada letak titik pusat gempa dan kedalaman hiposenternya, BMKG menyimpulkan bahwa lindu yang terjadi merupakan kategori gempa bumi menengah. Peristiwa ini dipicu oleh adanya deformasi batuan dalam subduksi Lempeng Laut Maluku yang terletak di bawah permukaan laut.
Lokasi pusat gempa atau episenter secara teknis berada pada koordinat 0,05 derajat Lintang Selatan dan 123,92 derajat Bujur Timur. Titik ini tepatnya berlokasi di wilayah laut dengan jarak sekitar 47 kilometer arah Barat Daya dari Bolaang Uki, Sulawesi Utara, pada tingkat kedalaman 107 kilometer.
Rahmat Triyono dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (18/4) juga memaparkan bahwa berdasarkan analisis mekanisme sumber, gempa bumi tersebut memiliki pergerakan naik atau dikenal dengan istilah thrust fault. Penjelasan ilmiah ini menjadi dasar bagi BMKG dalam memetakan dampak guncangan di wilayah sekitarnya.
Paparan getaran gempa dilaporkan terasa di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, serta Kota dan Kabupaten Gorontalo. Di daerah-daerah tersebut, intensitas gempa tercatat pada skala III MMI, di mana getaran dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seolah-olah ada truk besar yang sedang melintas.
Selain di wilayah-wilayah tadi, daerah Minahasa Tenggara juga ikut merasakan guncangan namun dengan skala intensitas yang lebih rendah yakni II MMI. Pada level intensitas ini, getaran biasanya hanya dirasakan oleh beberapa orang dan menyebabkan benda-benda ringan yang tergantung tampak bergoyang pelan.(*/cnni)


