Medan, SeputarSumut — Pertumbuhan jumlah investor pasar modal di Provinsi Sumatra Utara tetap menunjukkan tren positif dan kini didominasi hingga hampir 60 persen oleh Generasi Z atau Gen Z. Fenomena ini terjadi di tengah fase koreksi market global yang sempat memicu sedikit penurunan pada aktivitas transaksi di daerah tersebut.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Provinsi Sumatra Utara (BEI Sumut) M. Pintor Nasution menjelaskan bahwa kemudahan akses informasi serta perkembangan teknologi menjadi faktor utama yang mendorong antusiasme para investor muda tersebut. Dibandingkan generasi sebelumnya, kelompok umur ini juga dinilai memiliki karakteristik yang lebih berani dalam mengambil risiko investasi yang tinggi.
Berita Ekonomi: Gen Z Dominasi Pasar Modal Sumatra Utara di Tengah Fluktuasi Global
“Gen Z dinilai lebih berani mengambil risiko tinggi, seperti berinvestasi di aset kripto maupun saham,” ujar Pintor di Medan, Kamis (25/6/2026).
Faktor keterjangkauan modal awal turut menjadi stimulus utama yang menarik minat masyarakat untuk mulai berinvestasi. Melalui kebijakan saat ini, masyarakat sudah bisa masuk ke instrumen reksa dana hanya dengan dana Rp10.000, atau membuka rekening saham dengan modal awal sebesar Rp100.000.
Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, para investor jangka panjang di Sumatra Utara dilaporkan masih menaruh kepercayaan besar pada saham-saham perbankan besar atau ‘big banks’. Emiten seperti BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI tetap menjadi pilihan utama atau ‘safe haven’ yang diandalkan oleh para pelaku pasar lokal.
“Ketika terjadi koreksi dalam, momentum tersebut umumnya dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi beli,” tutur Pintor.
Mengenai sentimen global, pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital Index (MSCI) menegaskan posisi pasar Indonesia yang dipertahankan dalam kategori Emerging Market atau pasar berkembang, serta terhindar dari penurunan status ke Frontier Market. Pintor memaparkan bahwa fluktuasi yang terjadi belakangan ini dipicu oleh faktor eksternal lain seperti pidato pejabat bank sentral, namun investor diminta tidak panik karena indeks sudah terkoreksi cukup dalam sekitar 29 persen.
“Meskipun sempat terjadi gejolak volatilitas akibat faktor eksternal lain, investor diharapkan tetap optimis mengingat posisi indeks yang sudah terkoreksi cukup dalam,” jelasnya.
Beralih ke sektor korporasi, Sumatra Utara tercatat belum menyumbang emiten baru yang melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada tahun ini. Padahal, secara nasional saat ini terdapat sekitar enam perusahaan yang berada di dalam antrean untuk melantai di bursa efek.
Pintor mengungkapkan bahwa hambatan terbesar bagi korporasi lokal di Sumatra Utara bukan terletak pada regulasi, melainkan kesiapan internal terkait profesionalisme dan transparansi laporan keuangan. Otoritas bursa bersama OJK, LPS, dan pemerintah daerah pun terus menggalakkan edukasi untuk mengikis kekhawatiran para pemilik perusahaan mengenai kewajiban keterbukaan informasi setelah berstatus terbuka.
“Banyak pemilik perusahaan masih merasa khawatir terhadap kewajiban keterbukaan informasi setelah menjadi perusahaan publik,” paparnya.
Hingga periode berjalan pada tahun 2026, total Single Investor Identification (SID) di Sumatra Utara telah menyentuh angka 1,3 juta investor. Kendati demikian, sebaran geografis investor tersebut masih berpusat secara masif di wilayah Kota Medan.
Pihak BEI Sumut kini tengah mengalihkan fokus untuk memperluas basis investor ke 33 kabupaten dan kota lainnya di Sumatra Utara. Otoritas telah memetakan beberapa wilayah lapis kedua yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan paling besar, meliputi Deli Serdang, Pematangsiantar, Binjai, Langkat, Rantauprapat, hingga Padangsidimpuan.
“Otoritas terkait kini tengah fokus memperluas jangkauan ke 33 kabupaten/kota lainnya,” pungkas Pintor.(Siong)


