Medan, SeputarSumut — Pergerakan harga beras medium di Kota Medan mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir seiring berakhirnya musim panen raya di wilayah Sumatra Utara. Ekonom Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, menegaskan bahwa lonjakan ini bukan dipicu oleh efek domino dari kenaikan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax sebesar 3.950 per liter.
Berdasarkan pemantauan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis atau PIHPS, dua jenis beras medium tercatat mengalami kenaikan masing-masing sebesar 200 per Kg dan 300 per Kg dalam sepekan terakhir. Perubahan harga komoditas pangan pokok ini dipantau secara langsung di Kota Medan pada Minggu, 21 Juni 2026.
Berita Ekonomi: Harga Beras di Medan Naik Usai Panen Raya Berakhir, Ekonom Gunawan Benjamin Soroti Faktor El Nino dan Rupiah
Secara rinci, harga beras medium pertama mengalami kenaikan rata-rata dari posisi 15.050 per Kg pada 15 Juni menjadi 15.250 per Kg. Kenaikan rata-rata di Kota Medan tersebut dipicu oleh pergerakan di Pasar Brayan dan Pasar Petisah yang mengalami kenaikan sebanyak 500 per Kg.
Sementara itu, jenis beras medium lainnya secara rata-rata juga bergerak naik dari posisi 14.550 per Kg pada 15 Juni menjadi 14.850 per Kg di Kota Medan. Jika dilihat lebih detail, Pasar Brayan menyumbang kenaikan sebanyak 500 per Kg, sedangkan Pasar Petisah menyumbang kenaikan sebesar 1.000 per Kg.
“Namun sepekan setelah kenaikan harga Pertamax, saya tidak melihat ada dampak besar yang memicu terjadinya kenaikan harga sejumlah kebutuhan pangan,” jelas Gunawan Benjamin saat memaparkan hasil analisisnya.
Ia mengakui bahwa pada dasarnya kenaikan harga Pertamax memang berpeluang mendorong biaya operasional perusahaan yang berpotensi menaikkan harga jual produk. Namun, kenaikan harga beras secara umum saat ini lebih dikarenakan oleh siklus musim panen raya yang sudah berakhir di wilayah Sumatra Utara.
Terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh pemerintah karena harga beras saat ini bisa saja bertahan mahal hingga akhir tahun. Faktor pertama dipicu oleh ancaman iklim yang dapat mengganggu jalannya roda produksi pangan domestik.
“Pertama, ada ‘godzila elnino’ yang berpeluang menekan produktifitas tanaman padi,” tuturnya.
Faktor kedua yang menjadi perhatian adalah adanya tren kenaikan harga pupuk, herbisida, pestisida, hingga potensi lonjakan kenaikan gaji buruh tani. Pada level ini, pupuk untuk petani padi umumnya adalah pupuk subsidi, tetapi komponen produksi lainnya justru berpeluang mengalami kenaikan termasuk biaya akibat penyesuaian harga Pertamax.
“Ketiga Rupiah masih berada dalam tekanan atau melemah. Pelemahan Rupiah menjadi salah satu beban yang dikeluhkan petani sebelumnya,” ungkap Gunawan.
Pihaknya menambahkan, meskipun pemerintah memberikan pengumuman bahwa Indonesia masih mengalami surplus beras, dampak pelemahan Rupiah tetap berpeluang mendorong kenaikan biaya produksi pertanian. Situasi ini kian kompleks akibat ketidakpastian tensi geopolitik ditambah masalah El Nino serta kendala teknis lain yang memicu kenaikan harga beras dunia.
“Jadi tren harga beras domestik kedepan akan sangat ditentukan oleh pasokan yang ada di pemerintah. Karena kalau berharap dari beras luar tentu pembentukan harganya akan lebih tinggi untuk saat ini,” pungkasnya.(Siong)


