Medan, SeputarSumut – Kondisi harga cabai merah di pasar tradisional Kota Medan dan sekitarnya mengalami keterpurukan yang cukup dalam tepat setelah masa libur panjang Idulfitri 2026 berakhir. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), komoditas ini sempat menyentuh angka terendah di kisaran Rp19.800 per kg dan hingga saat ini masih tertahan di level Rp21.000 per kg.
Anjloknya harga di tingkat konsumen ternyata berbanding lurus dengan kondisi yang jauh lebih memprihatinkan di tingkat produsen. Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa dalam pantauan langsung di lapangan, dirinya menemukan harga jual yang sangat rendah bahkan menyentuh titik kritis bagi keberlangsungan usaha tani.
Berita Ekonomi: Harga Cabai Merah Anjlok Pascalibur Lebaran 2026, Pengamat Ekonomi Sumut Ungkap Tiga Penyebab Utama
“Berdasarkan hasil pemantauan langsung di lapangan, saya sempat menemukan harga cabai merah dijual Rp15.000 per kg. Bahkan dari hasil wawancara langsung dengan petani di wilayah Deli Serdang, harga cabai merah di level petani sempat berada dalam rentang Rp7.000 hingga Rp10.000 per kg,” ujar Gunawan Benjamin di Medan, Selasa (31/03/2026).
Menurut analisis Gunawan, fenomena merosotnya harga ini dipicu oleh tiga faktor fundamental yang saling berkaitan. Faktor pertama berkaitan erat dengan anomali cuaca dan bencana alam yang terjadi pada akhir tahun lalu, yang kemudian mengubah siklus panen raya di wilayah Sumatera Utara.
“Pertama, bencana pada bulan November tahun 2025 silam telah memaksa petani cabai kembali menanam ulang tanamannya. Banjir besar yang menenggelamkan banyak areal tanaman cabai merah memicu pola tanam yang mundur sekitar satu bulan. Sehingga seharusnya banyak cabai yang bisa dipanen di awal Ramadhan, justru mundur pada bulan Maret yang membuat terjadi penumpukan supply,” jelasnya.
Faktor kedua yang turut menekan harga adalah limpahan pasokan dari wilayah tetangga, yakni Aceh. Meskipun wilayah tersebut sempat terdampak banjir besar, pemulihan lahan dan hasil panen dari klaster-klaster petani baru di sana ternyata melampaui ekspektasi pasar dan membanjiri distribusi ke wilayah Sumatera Utara.
“Saya melihat ada panen cabai merah dari klaster petani baru di Aceh. Saya menemukan banyak pasokan yang tetap di-supply dari wilayah Aceh, padahal wilayah ini sebelumnya yang paling terdampak banjir. Bahkan di beberapa waktu tertentu saat banjir, banyak pasokan cabai dari wilayah Aceh yang tidak bisa didistribusikan ke wilayah lainnya. Namun di luar dugaan, pasokan dari Aceh masih berlanjut dalam jumlah signifikan pada bulan Februari,” tambah Gunawan.
Sementara itu, faktor ketiga yang menjadi penyebab klasik adalah kurangnya organisasi pola tanam di tingkat petani. Gunawan menyoroti adanya kecenderungan petani yang menanam secara serentak demi mengejar momentum keuntungan pada hari besar keagamaan, namun justru terjebak dalam skenario penumpukan barang.
“Ketiga, ada kebiasaan dari petani kita yang tidak terorganisir dengan baik menanam cabai dengan harapan ada cuan di saat perayaan keagamaan seperti Idulfitri. Di mana setiap petani memiliki ekspektasi yang sama terhadap kemungkinan adanya kenaikan demand atau permintaan di hari besar tertentu,” ungkapnya lagi.
Kondisi ini, menurut Gunawan, secara tidak disadari menggiring para petani untuk menyesuaikan pola bercocok tanam demi panen di waktu yang sama. Akibatnya, terjadi panen raya serentak yang memicu supply menggunung di pasar dan berujung pada penurunan harga yang sangat tajam bagi komoditas cabai merah.
Menutup pernyataannya, Gunawan Benjamin menekankan pentingnya konsistensi dalam pengelolaan sektor pertanian, meskipun tantangan di lapangan sangat dinamis. Ia berharap ada solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga agar petani tidak terus-menerus merugi akibat fluktuasi pasar yang ekstrem.
“Konsistensi sangat dibutuhkan di sini, walaupun konsistensi petani terkadang kerap terganggu oleh bencana, kenaikan harga bahan baku saprotan, hingga dinamika harga yang kerap membuat petani kehilangan kemampuan bercocok tanam,” pungkas Gunawan Benjamin.(Siong)


