Jakarta, SeputarSumut — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan kepastian bahwa potensi terjadinya fenomena gelombang panas ekstrem seperti di Eropa sangat kecil melanda Indonesia, di tengah munculnya rasa khawatir dari masyarakat di Tanah Air terkait fenomena ‘heatwave’ serupa. Perbedaan karakteristik iklim antara Indonesia dengan negara-negara di benua Eropa menjadi alasan utama hal tersebut tidak terjadi, sebagaimana dipaparkan oleh Prakirawan Cuaca BMKG, Adinda Dara Vahada.
Kondisi Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan dengan iklim tropis membuat kelembapan udara di dalam negeri tergolong tinggi. Di samping itu, wilayah Indonesia dipengaruhi secara langsung oleh keberadaan lautan yang berperan aktif dalam membantu proses pembentukan awan serta curah hujan.
Lintas Nasional: BMKG Pastikan Potensi Gelombang Panas Ekstrem Eropa Sangat Kecil Terjadi di Indonesia
“Secara umum (tidak mungkin terjadi). Potensi gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa sangat kecil terjadi di Indonesia,” kata Adinda dalam keterangan persnya, di Jakarta, dikutip Selasa, 2 Juli 2026.
Berdasarkan data dari hasil penelitian yang dilakukan BMKG, Adinda mengungkapkan bahwa fenomena gelombang panas di benua Eropa pada umumnya dipicu oleh adanya pergerakan massa udara panas. Udara panas tersebut kemudian menjadi terperangkap dalam jangka waktu yang cenderung lama akibat dari pengaruh pola tekanan tinggi.
Sistem cuaca semacam itu lebih berpotensi melanda wilayah daratan yang memiliki cakupan luas serta terletak di area lintang menengah. Karakteristik geografis tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi wilayah maritim layaknya Indonesia.
Tingkat suhu udara panas yang berlangsung di Indonesia saat ini dipastikan Adinda masih masuk ke dalam klasifikasi cuaca panas harian. Angka suhu di dalam negeri terpantau hanya berkisar antara 33 sampai 36 derajat Celsius, serta hanya sesekali waktu saja mencapai angka 37 derajat Celsius di sejumlah daerah tertentu.
“Peningkatan suhu tersebut umumnya dipengaruhi berkurangnya tutupan awan. Dan, menurunnya curah hujan saat musim kemarau, bukan termasuk kategori heatwave,” ucap Adinda.
Pada pemberitaan sebelumnya, situasi cuaca panas ekstrem telah menimbulkan efek yang sangat serius pada sejumlah negara di Eropa selama beberapa pekan terakhir. Lonjakan suhu yang terus berlangsung memicu jatuhnya korban jiwa hingga ribuan orang meninggal dunia, selain juga mengakibatkan bencana kebakaran hutan, hambatan pada sektor transportasi, hingga memicu kerusakan di bagian infrastruktur.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus memberikan pernyataan bahwa Eropa pada saat ini sudah berubah menjadi wilayah dengan laju pemanasan paling cepat di seluruh dunia. Faktor suhu ekstrem ini disebutnya telah memberikan dampak buruk bagi jutaan warga dan memberikan beban berat terhadap sektor pasokan listrik hingga fasilitas pelayanan kesehatan.
“Saat ini 150 juta orang hidup di bawah panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal, sekolah-sekolah ditutup. Dan jaringan listrik kewalahan,” ujar Tedros dikutip dari Associated Press.(*/rri)


