Medan, SeputarSumut — Dinamika geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas diprediksi dapat menjadi bumerang bagi kinerja ekspor maupun pembentukan harga CPO di pasar global. Jika eskalasi konflik meluas ke negara lain, dampaknya tidak hanya sebatas gangguan pada jalur logistik saja, tetapi lebih jauh lagi bisa memaksa negara-negara tujuan ekspor minyak kelapa sawit asal Sumatera Utara untuk menurunkan atau bahkan menghentikan permintaan mereka sama sekali.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memberikan analisis mendalam terkait situasi ini pada Jumat (17/04/2026). Ia menjelaskan bahwa harga CPO sempat menyentuh angka 1.170 dolar AS per ton pada pekan pertama bulan ini, namun kini berbalik arah dan berada di kisaran 1.102 dolar AS per ton. Kenaikan harga sebelumnya dipicu oleh harga minyak mentah dunia yang sempat bertengger di level 110 hingga 113 dolar AS per barel, yang saat ini telah turun ke kisaran 90 hingga 95 dolar AS per barel.
Berita Ekonomi: Harga CPO Berisiko Anjlok Akibat Konflik Selat Hormuz dan Lonjakan Produksi Sawit
Dalam pernyataannya, Gunawan Benjamin menyoroti korelasi antara komoditas energi dan pangan tersebut. Selain faktor penurunan harga minyak mentah yang ikut menyeret harga komoditas lainnya, terdapat sejumlah risiko signifikan yang wajib dicermati oleh pelaku industri kelapa sawit di masa mendatang.
“Saya menilai selain penurunan harga minyak mentah yang mendorong penurunan pada komoditas lainnya, ada sejumlah resiko yang penting untuk dicermati terkait industri sawit kedepan. Pertama adalah peningkatan produksi minyak sawit seiring produktifitas tanaman yang alami peningkatan,” ungkap Gunawan Benjamin dalam keterangannya di Medan.
Faktor kedua yang menjadi perhatian serius adalah potensi hambatan ekspor akibat situasi keamanan global. “Kedua adalah potensi tekanan ekspor yang berpeluang alami gangguan seiring dengan penutupan atau blockade selat hormuz yang berpotensi mengganggu penjadwalan kapal atau keterlambatan, kenaikan biaya logistik hingga memicu penurunan demand atau permintaan,” tambah Gunawan.
Berdasarkan hasil pengamatan langsung ke sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS), Gunawan memproyeksikan adanya kenaikan penggunaan bahan baku sawit hingga mencapai 20 persen secara bulanan pada bulan April ini. Lonjakan pasokan dari sisi hulu ini di satu sisi menunjukkan produktivitas yang baik, namun di sisi lain menyimpan ancaman bagi stabilitas harga jika tidak diimbangi dengan serapan pasar yang kuat.
Kombinasi antara peningkatan produksi dan gangguan jalur distribusi ini dikhawatirkan akan memicu kondisi kelebihan pasokan di pasar. Gunawan Benjamin memperingatkan bahwa potensi over supply di masa mendatang bisa menjadi faktor utama yang menekan harga CPO lebih dalam, mengingat masa panen sawit diprediksi akan terus mengalami kenaikan setidaknya hingga bulan Juni atau Juli mendatang.
Oleh karena itu, Gunawan menegaskan bahwa arah pergerakan harga minyak sawit dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh faktor eksternal yang sulit diprediksi. Pembentukan harga sawit ke depan akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik yang berkembang, di mana ketidakpastian di jalur logistik internasional menjadi variabel penentu bagi kemakmuran industri sawit di Sumatera Utara.(Siong)


