Medan, SeputarSumut — Kesepakatan damai yang ditandatangani oleh Iran dan Amerika Serikat memicu penurunan harga komoditas minyak mentah dunia, yang kemudian ikut menyeret jatuh harga komoditas unggulan Sumatra Utara seperti kelapa sawit dan karet.
Ekonom Sumatra Utara, Gunawan Benjamin melaporkan bahwa saat ini harga minyak mentah dunia jenis WTI melemah di kisaran 70 dolar AS, sementara jenis Brent berada di angka sekitar 73 dolar AS per barel.
Berita Ekonomi: Harga Komoditas Unggulan Sumut Merosot Imbas Kesepakatan Damai Iran dan AS
“Melemahnya harga minyak mentah dunia juga turut menyeret pelemahan pada sejumlah komoditas lainnya,” ujarnya di Medan pada Jumat, 26 Juni 2026.
Penurunan ini berdampak langsung pada komoditas minyak kelapa sawit mentah atau CPO dunia. Jika pada tanggal 22 Juni 2026 harga CPO masih bertengger di kisaran 4.667 ringgit per ton, saat ini posisinya melorot menjadi 4.557 ringgit per ton, atau terkoreksi sekitar 2,4 persen dalam sepekan perdagangan terakhir.
“Sementara itu harga CPO alami penurunan harga sekitar 5,9 persen dari capaian tertinggi 2026 di level 4.841 ringgit per ton,” jelasnya.
Kondisi yang tidak jauh berbeda juga menimpa komoditas karet yang mengalami tren penurunan cukup tajam. Harga karet yang sebelumnya ditransaksikan di kisaran 2,28 dolar AS per kilogram pada 22 Juni, saat ini merosot ke angka 2,24 dolar AS per kilogram atau turun sebesar 1,8 persen.
“Harga karet melemah cukup dalam sebesar 4,3 persen dari capaian tertinggi di tahun 2026 di harga 2,34 dolar AS per kg,” tuturnya.
Penyusutan nilai jual pada kedua sektor andalan Sumatra Utara tersebut diprediksi akan berdampak langsung pada rantai pasok paling bawah. Gunawan menilai kemerosotan ini memiliki potensi besar untuk menekan harga karet maupun tandan buah segar atau TBS di tingkat petani.
“Harga TBS maupun Karet di level petani besar kemungkinan akan lebih banyak mendapatkan tekanan saat tensi geopolitik mereda,” paparnya.
Namun, hantaman terhadap nilai jual ini sedikit diredam oleh kondisi mata uang domestik. Pelemahannya nilai tukar Rupiah yang saat ini berada di kisaran 17.950 hingga 18.000 per Dolar AS justru berfungsi sebagai bantalan penahan kerugian total akibat tekanan harga komoditas global.
“Disisi lain pelemahan Rupiah dikisaran harga 17.950 hingga 18 ribu per US Dolar, menjadi bumper menahan kerugian yang diakibatkan oleh tekanan pada harga komoditas global,” tambahnya.
Meskipun global sedang bergejolak, sektor kelapa sawit diproyeksikan tidak akan mengalami perubahan besar dari segi permintaan atau demand ke negara-negara tujuan ekspor. Peluang rebound untuk komoditas ini masih terbuka lebar melalui program domestik.
“Kenaikan harga sawit kedepan masih berpeluang terjadi saat pemerintah mengeksekusi kebijakan B50 yang direncanakan akan dimulai pada juli mendatang,” ungkapnya.
Sebaliknya, masa depan sektor karet dinilai masih harus menghadapi jalan terjal dalam beberapa waktu ke depan. Gunawan memproyeksikan bahwa komoditas karet masih akan terus mengalami tekanan dan perkembangannya sangat bergantung pada dinamika politik global secara menyeluruh.(Siong)


