Jakarta, SeputarSumut — Penurunan tajam melanda harga minyak mentah global pada hari Minggu pasca pengumuman resmi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai tercapainya kesepakatan damai dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Dampak dari pengumuman tersebut langsung menekan kontrak berjangka minyak mentah Amerika Serikat hingga merosot sebesar 4,8 persen ke angka US$ 80,80 per barel, sedangkan minyak mentah jenis Brent yang menjadi standar acuan pasar internasional turut melemah sebesar 3,9 persen menjadi US$ 83,89 per barel.
“Dengan ini kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah selesai,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social, dikutip dari CNBC, Senin (15/6/2026).
Berita Ekonomi: Harga Minyak Dunia Anjlok Setelah Donald Trump Umumkan Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz dengan Iran
Melalui kesepakatan yang telah disetujui tersebut, Trump menjelaskan bahwa jalur pelayaran Selat Hormuz bakal diaktifkan kembali tanpa ada pemberlakuan sistem pungutan bagi setiap kapal yang lewat. Komitmen timbal balik juga ditunjukkan oleh pihak Amerika Serikat yang bersedia menyudahi aksi blokade armada angkatan laut mereka di wilayah perairan Iran.
“Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!” tulis Trump.
Melalui pernyataan lanjutan yang diunggah ke media sosial, Trump membeberkan bahwa peresmian pembukaan jalur Selat Hormuz dijadwalkan berlangsung pada hari Jumat, berbarengan dengan pelaksanaan agenda upacara penandatanganan kesepakatan damai di Swiss.
“Dengan dibukanya Selat Hormuz setelah penandatanganan kesepakatan pada Jumat, minyak akan kembali mengalir dari kedua arah untuk kawasan dan dunia,” ujarnya.
Langkah normalisasi ini menjadi sangat krusial mengingat sekitar 20 persen dari total pasokan minyak global bergantung pada akses penyeberangan di Selat Hormuz sebelum terjadinya konflik. Arus lalu lintas kapal tanker pengangkut komoditas tersebut sempat mengalami penurunan drastis sejak permulaan Maret akibat tindakan penutupan jalur oleh pihak Iran sebagai respons atas serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Pemblokiran wilayah perairan tersebut sempat memicu kondisi krisis ketersediaan pasokan minyak paling parah sepanjang sejarah. Terkait perkembangan terbaru ini, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat dan Iran telah sepakat untuk menghentikan seluruh aktivitas operasi militer secara permanen di semua area pertempuran, termasuk wilayah Lebanon.
Sharif, yang memegang mandat sebagai penengah atau mediator dalam rangkaian negosiasi antara kedua negara tersebut, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas besarnya komitmen Amerika Serikat dan Iran dalam menyelesaikan ketegangan politik ini lewat meja diplomasi.
“Kami berterima kasih kepada Amerika Serikat dan Republik Islam Iran atas komitmen mereka untuk menemukan solusi diplomatik bagi konflik ini,” kata Sharif.
Dirinya memaparkan bahwa jajaran mediator akan mengoordinasikan rentetan agenda pertemuan pada pekan ini dengan tujuan menyusun persiapan teknis sekaligus mematangkan prosesi penandatanganan dokumen perjanjian damai secara resmi.
Sebelumnya pada pekan lalu, CEO perusahaan tanker minyak Frontline, Lars Barstad, sempat memprediksi bahwa aktivitas pelayaran kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz berpotensi pulih dalam durasi yang cepat asalkan ada kesepakatan yang dinilai tepercaya di antara kedua belah pihak.
“Saya sangat optimistis begitu situasi berbalik dan AS serta Iran mencapai suatu kesepakatan, setidaknya untuk tidak menyerang pelayaran, maka lalu lintas kapal akan segera kembali normal,” tutur Barstad.(*/dtk)

