Medan, SeputarSumut – Pasar keuangan global dan domestik diprediksi akan menjalani pekan yang sangat singkat menjelang akhir tahun ini. Sejumlah agenda ekonomi krusial di awal pekan menjadi pusat perhatian utama para pelaku pasar, terutama kebijakan moneter Bank Sentral China (PBoC) yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pinjamannya di level 3%, serta penantian rilis data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) kuartal ketiga (Q3).
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai bahwa kebijakan dari China tersebut memberikan angin segar bagi pasar modal di wilayah Asia. “Sentimen dari kebijakan PBoC menjadi kabar baik bagi pasar saham di Kawasan Asia, sehingga mayoritas bursa bergerak menguat pada perdagangan hari ini,” ujar Gunawan di Medan, Senin (22/12/2025).
Berita Ekonomi: IHSG dan Emas Menguat di Pekan Pendek Akhir Tahun
Kondisi positif ini turut dirasakan oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terpantau menguat ke posisi 8.629 pada sesi pembukaan perdagangan. Kendati terdapat beberapa rilis data penting yang akan keluar, Gunawan memproyeksikan bahwa kinerja pasar keuangan secara umum tidak akan mengalami perubahan yang signifikan di pekan pendek ini.
Di sektor nilai tukar, mata uang Rupiah mencatatkan penguatan tipis dan ditransaksikan pada level 16.730 per US Dolar. Menurut Gunawan, kebijakan moneter PBoC berperan sebagai katalis positif yang mendorong penguatan mata uang di berbagai negara Asia pada pagi hari ini.
Namun, Gunawan Benjamin memberikan catatan waspada terkait pergerakan mata uang garuda ke depan. “Meskipun saat ini menguat, imbal hasil US Treasury 10 tahun dan USD Index menunjukkan kenaikan pada sesi pagi. Artinya, Rupiah masih tetap berpeluang mengalami tekanan pelemahan dan diproyeksikan akan bergerak dalam rentang 16.720 hingga 16.770 per US Dolar,” jelasnya.
Sementara itu, instrumen investasi emas dunia kembali menunjukkan taringnya dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level $4.381 per ons troy. Kenaikan tajam ini dipicu oleh maraknya spekulasi di pasar mengenai rencana pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS atau The Fed pada tahun mendatang.
Gunawan mengingatkan para investor bahwa dengan pencapaian harga yang fantastis tersebut, komoditas emas kini berada dalam posisi yang rawan. “Dengan capaian rekor baru ini, kinerja emas memang sangat rawan terkena aksi ambil untung atau profit taking oleh para pelaku pasar,” kata Gunawan menambahkan.
Meski ada risiko koreksi, peluang emas untuk kembali menembus rekor tertinggi baru tetap terbuka lebar karena didukung oleh sentimen fundamental yang kuat. Hingga saat ini, harga emas dunia jika dikonversikan ke dalam mata uang lokal ditransaksikan pada kisaran harga Rp2,37 juta per gram.(Siong)


