Medan, SeputarSumut — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat tipis sebesar 0,2 persen ke posisi 5.924,36 pada perdagangan akhir pekan. Ekonom Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, menyampaikan bahwa pergerakan IHSG sempat tertekan hingga menyentuh level 5.887 pada sesi perdagangan kedua. Kinerja indeks saham domestik tersebut baru berbalik menguat di detik-detik terakhir setelah sempat mendominasi zona merah.
“IHSG yang menguat tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kinerja bursa di Asia yang kebanyakan parkir di zona hijau pada perdagangan akhir pekan,” ujar Gunawan di Medan, Sabtu, 11 Juli 2026.
Berita Ekonomi: IHSG dan Rupiah Kompak Menguat Tipis di Akhir Pekan
Investor asing terpantau melakukan aksi beli bersih terhadap sejumlah saham emiten, seperti ADRO, ELSA, BRMS, TINS, hingga INDF. Namun, pada saat yang sama, investor asing masih membukukan posisi jual bersih di akhir pekan terhadap saham beberapa emiten lain, seperti BBCA, BBRI, TLKM, DEWA, hingga TPIA.
Di sisi lain, mata uang Rupiah juga ditutup menguat ke level 18.045 per Dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan berlangsung, nilai tukar mata uang Rupiah bergerak menyamping atau sideways dengan kecenderungan menguat. Mata uang Dolar AS saat ini tengah mengalami tekanan di pasar global seiring meredanya ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz.
“Kondisi ini dimanfaatkan oleh banyak mata uang di Asia untuk menguat terhadap US Dolar,” jelas Gunawan.
Sejumlah mata uang di Asia yang turut menguat terhadap Dolar AS antara lain Baht Thailand, Yuan China, Rupee India, dan Dolar Singapura. Meski mengalami penguatan di akhir pekan, posisi nilai tukar Rupiah terpantau masih berada di atas level 18.000 per Dolar AS. Gunawan menambahkan bahwa kinerja pasar keuangan dalam sepekan terakhir terlihat rapuh akibat diterpa sentimen negatif eksternal.
Sementara itu, harga emas dunia ditransaksikan melemah terbatas di level 4.105 Dolar AS per ons troy, atau sekitar 2,39 juta Rupiah per gram. Penurunan terbatas ini terjadi seiring dengan adanya rencana kelanjutan negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat. Saat ini, harga emas masih berkonsolidasi hingga muncul sentimen fundamental baru yang akan menggerakkannya.
“Sejauh ini harga emas terpantau bergerak sideways ditengah minimnya sentimen ekonomi,” pungkas Gunawan.(Siong)


