Medan, SeputarSumut — Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dr Sofyan Tan menegaskan bahwa membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama pada setiap jenjang pendidikan. Menurutnya, guru harus memahami karakteristik perkembangan peserta didik agar proses pembelajaran berlangsung secara humanis dan efektif.
Pernyataan tersebut disampaikan Sofyan Tan saat menjadi narasumber utama dalam acara Workshop Pendidikan bertema Membangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Melalui Pendekatan yang Humanis. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kemendikdasmen RI bersama Komisi X DPR RI ini berlangsung di Hotel Le Polonia, Medan, Sabtu (11/7).
Sorot Politik: Penerapan Pendekatan Humanis Berdasarkan Jenjang Pendidikan Kunci Budaya Sekolah Aman
Metode Pendekatan Tiap Tingkat Pendidikan
Sofyan Tan memaparkan bahwa untuk jenjang PAUD dan TK, guru dituntut membangun ikatan emosional yang kuat dengan peserta didik. Pada usia dini, anak masih berada pada tahap perkembangan yang cenderung egosentris sehingga lebih banyak melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
“Anak PAUD dan TK itu lebih tinggi ‘aku-nya’ dari pada ‘dikau’. Artinya dia selalu mengedepankan apa mau dirinya, dan kalau tidak terpenuhi dia nangis,” ungkap Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) tersebut.
Oleh karena itu, anak PAUD dan TK memerlukan kasih sayang, perhatian, serta kedekatan emosional. Pendekatan yang hangat melalui sentuhan yang aman, sapaan, senyuman, dan penguatan positif dinilai jauh lebih efektif untuk diterapkan.
Saat memasuki jenjang sekolah dasar, perkembangan anak mulai mengalami perubahan karena mereka mulai memahami aturan, tanggung jawab, serta mampu bekerja sama dengan teman. Guru pada tingkat ini perlu menghadirkan pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan memberi teladan melalui pembiasaan karakter.
Tantangan Terbesar Pada Tingkat Menengah
Tantangan terbesar dalam dunia pendidikan muncul pada jenjang SMP karena siswa pada umumnya sedang mengalami masa pubertas sehingga memerlukan perlakuan yang berbeda. Sofyan Tan mengingatkan kembali kerusuhan yang terjadi saat aksi Agustus 2025 lalu, yang ternyata melibatkan pengerahan massa dari kelompok anak SMP. Kelompok usia ini lebih mudah digerakkan, gampang meledak-ledak jika diprovokasi, serta ada pihak yang mengajarkan bahwa mereka tidak bisa dihukum karena masih di bawah umur.
Perlakuan untuk anak SMP harus berbeda dengan tidak memarahi atau dipermalukan di depan teman-temannya. Jika mereka melakukan kesalahan, guru harus memanggil secara pribadi dan mengajak berbicara dari hati ke hati karena pendekatan humanis lebih efektif dibandingkan memarahi di depan umum yang dapat memicu penolakan serta perlawanan.
Pada jenjang SMA, perkembangan siswa mulai masuk pada tahap idealisme dan romantisme. Guru dituntut untuk mampu memposisikan diri sebagai mentor, konselor yang baik, serta rekan yang bisa mengarahkan siswa.
“Oleh sebab itu, peran guru tidak lagi sekadar sebagai pengajar, tetapi juga mentor, fasilitator, sekaligus konselor yang mampu mendengarkan dan mengarahkan potensi peserta didik,” jelas Sofyan Tan.
Esensi Lingkungan Belajar Dan Perlindungan Guru
Pendekatan humanis merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari bangunan gedung yang bagus dan megah, melainkan dilihat dari kemampuan sekolah membentuk karakter, empati, dan budaya saling menghargai di antara seluruh warga sekolah.
Sofyan Tan juga menekankan pentingnya guru dan siswa yang merasa aman, nyaman, serta diperlakukan manusiawi. Terutama bagi guru agar aman serta nyaman tanpa diteror oleh orang tua, pihak yayasan, maupun pihak eksternal lain, apalagi sampai dilaporkan ke kepolisian hanya karena menegakkan disiplin siswa.
Sekolah juga didorong untuk membangun komunikasi yang positif dengan orang tua siswa. Pihak sekolah tidak seharusnya memanggil orang tua hanya ketika anak mereka melakukan pelanggaran di lingkungan sekolah.
“Kalau anak berprestasi, orang tua juga perlu diundang untuk menerima kabar baik dan memberikan apresiasi. Dengan begitu, orang tua akan merasa dihargai dan terdorong untuk terus mendukung perkembangan anak,” ujarnya.
Sinergi Program Dan Revitalisasi Fasilitas Sekolah
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen, Dr. Iwan Junaidi, M.Pd mengingatkan bahwa seluruh sekolah akan melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mulai Senin mendatang. Ia meminta para guru menyosialisasikan berbagai program prioritas Kemendikdasmen kepada peserta didik, khususnya Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Iwan juga menekankan pentingnya keberadaan guru wali yang mendampingi peserta didik secara berkelanjutan sejak awal hingga menyelesaikan pendidikan di sekolah. Sistem tersebut diharapkan mampu membangun kedekatan emosional sehingga berbagai persoalan siswa dapat dideteksi dan diselesaikan lebih dini.
Selain itu, pemerintah terus menjalankan program revitalisasi sekolah untuk memperbaiki ruang kelas yang rusak, atap yang bocor, laboratorium yang belum memadai, serta kekurangan ruang belajar. Program tersebut ditargetkan mampu mengurangi secara signifikan jumlah sekolah yang mengalami kerusakan hingga tahun 2028.
Workshop pendidikan ini turut dihadiri Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Julian Hendri Sembiring, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Mujiono, serta para narasumber yakni Samsuar Sinaga, Zainuddin Abuhamid Muhammad Ghozali, dan Rezeki Lumban Toruan.(Siong)


