Jakarta, SeputarSumut – Investor menyambut perdagangan awal pekan ini dengan sentimen positif di Bursa Efek Indonesia (BEI), di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melonjak pada hari Senin (17/11/2025). Mengawali hari, IHSG mencatatkan kenaikan signifikan 0,31 persen atau 26 poin, menempatkannya di level 8.397. Dari pantauan awal sesi perdagangan pertama, pergerakan IHSG terpantau kuat dan stabil di zona hijau.
Tepat pada pukul 11.30 WIB, posisi IHSG telah mencapai level 8.434. Menurut Analis Pasar Modal dari Mirae Asset Sekuritas, Tasrul Tanar, tren yang diperlihatkan IHSG saat ini menunjukkan indikasi penguatan yang terus berlanjut.
Berita Ekonomi: IHSG Hari Ini Naik ke 8.397: Analis Prediksi Penguatan Lanjut Menuju 8.475
Penguatan tersebut akan semakin terkonfirmasi jika indeks mampu menembus level resistensi penting. “Konfirmasi IHG lebih kuat jika mampu menembus 8.425 menuju 8.475,” jelas Tasrul pada Senin (17/11/2025). Perlu dicatat bahwa penutupan perdagangan pada akhir pekan sebelumnya menunjukkan IHSG ditutup melemah tipis 0,02 persen atau 1,56 poin, berakhir di level 8.370.
Penurunan tipis yang terjadi pada hari Jumat kemarin disertai dengan adanya net sell (jual bersih) yang dilakukan oleh investor asing dengan nilai total Rp57 miliar. Sejumlah saham menjadi target utama penjualan oleh investor asing, termasuk BRMS, FILM, ICBP, NCKL, dan KLBF.
Meskipun terjadi aksi jual pada Jumat lalu, secara umum investor asing justru cenderung memprioritaskan pasar saham Indonesia dibandingkan dengan Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang November ini. Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan data tersebut. “Sepanjang November, net inflows asing di saham mencapai Rp7,5 triliun sedangkan di SBN, asing mencatatkan net outflows Rp5,5 triliun,” sebut Rully.
Daya tarik pasar saham saat ini meningkat karena adanya ekspektasi positif terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi, jelas Rully. Di sisi lain, investor SBN memilih untuk bersikap lebih hati-hati. Rully menambahkan, “Sedangkan kekhawatiran akan inflasi dan kestabilan fiskal menyebabkan investor lebih berhati-hati untuk berinvestasi di SBN.”
Fokus pelaku pasar saat ini juga tertuju pada keputusan Bank Indonesia (BI). Mereka tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG BI) yang dijadwalkan pada hari Rabu lusa. Dalam rapat tersebut, BI akan menetapkan suku bunga kebijakan untuk bulan November. Sebagai informasi, BI telah mempertahankan suku bunga (BI Rate) sebesar 4,75 persen pada keputusan bulan Oktober kemarin.(*/rri)


