Medan, SeputarSumut – Menjelang libur panjang tahun baru 2026, kondisi pasar keuangan terpantau tidak mendapatkan banyak sentimen positif akibat minimnya rilis agenda ekonomi penting. Situasi ini diperparah dengan rendahnya partisipasi para pelaku pasar yang melakukan transaksi di penghujung tahun, sehingga pergerakan pasar keuangan saat ini cenderung lebih banyak didorong oleh faktor sentimen teknikal semata.
Pada sesi pembukaan perdagangan Selasa (30/12/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan dengan ditransaksikan pada level 8.627. Pergerakan IHSG ini terlihat berjalan seirama dengan memburuknya mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang juga mengalami tekanan pada perdagangan pagi ini.
Berita Ekonomi: IHSG Melemah dan Rupiah Menguat Jelang 2026
Kondisi berbeda justru ditunjukkan oleh nilai tukar Rupiah yang terpantau menguat di kisaran level 16.730 per US Dolar pada sesi perdagangan pagi. Penguatan mata uang Garuda ini terjadi di saat kinerja USD Index bergerak stabil di kisaran level 98, sementara imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun justru tertekan ke level 4,1%.
Pengamat Ekonomi Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, memberikan analisisnya terkait dinamika pasar di penghujung tahun ini. Menurutnya, pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh psikologi pasar yang mulai memasuki masa libur.
”Pasar keuangan saat ini memang minim sentimen fundamental karena rilis data ekonomi penting hampir tidak ada di sisa tahun ini. Aktivitas transaksi yang rendah membuat pasar cenderung bergerak terbatas dan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknikal serta dinamika regional,” ujar Gunawan Benjamin di Medan, Selasa (30/12/2025).
Lebih lanjut, Gunawan menjelaskan bahwa kinerja IHSG ke depan masih berpeluang besar untuk mengikuti tren perkembangan bursa saham Asia secara umum. Di sisi lain, ia memproyeksikan mata uang Rupiah masih memiliki ruang gerak yang cukup stabil dalam durasi perdagangan hari ini.
”Untuk mata uang Rupiah, kami melihat adanya peluang transaksi dalam rentang 16.700 hingga 16.790 per US Dolar. Kondisi eksternal, terutama tekanan pada imbal hasil obligasi AS, memberikan sedikit napas bagi mata uang regional termasuk Rupiah untuk tampil lebih perkasa di pagi ini,” tambahnya.
Sementara itu, beralih ke komoditas, harga emas dunia justru mengalami tekanan setelah munculnya kabar mengenai rencana perdamaian antara Ukraina dengan Rusia. Namun, optimisme pasar tersebut belakangan mulai diragukan seiring dengan sikap Rusia yang menyatakan masih akan mempertimbangkan rencana damai tersebut secara mendalam.
Gunawan Benjamin juga menyoroti tensi geopolitik global yang masih membara dan menjadi penyokong kuat bagi harga emas ke depan. Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Venezuela serta Amerika Serikat dengan Iran membuat emas tetap menjadi instrumen lindung nilai yang diminati.
”Meskipun pagi ini harga emas terkoreksi di level $4.353 per ons troy atau sekitar Rp2,35 juta per gram, namun secara fundamental emas masih ditopang sentimen geopolitik yang kuat. Ketidakpastian di Timur Tengah dan Amerika Latin adalah faktor yang membuat penurunan harga emas akan cenderung terbatas,” pungkas Gunawan.(Siong)


