Kamis, Juli 2, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
Iklan PT Indako Trading Coy
Beranda Ragam

Ilmuwan: Kiamat Lebih Cepat 10 Tahun!

Oleh Redaksi 15
Jumat, 15 Maret 2024
Foto: Ilustrasi.

Ilustrasi.

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

seputar – Jakarta | Kondisi Bumi saat ini sedang tidak baik akibat kerusakan alam yang terjadi. Bahkan Jam Kiamat 2024 menjelaskan Bumi semakin dekat dengan kehancuran dan hanya memiliki waktu 90 detik menuju tengah malam.

Perubahan iklim dan tidak adanya komitmen manusia mengurangi emisi gas dan rumah kaca menjadi beberapa penyebabnya. Bahkan penelitian membuktikan hal itu benar-benar bisa terjadi.

Pernik Ragam: Ilmuwan: Kiamat Lebih Cepat 10 Tahun!

Iklan Indako SeputarSumut

Ilmuwan di University of Colorado Boulder (CU) dalam laporan terbarunya menjelaskan pencairan es di Samudra Arktik maju satu dekade atau 10 tahun lebih cepat. Mengerikannya, angka ini tetap konsisten meski telah diterapkan ke berbagai skenario emisi di masa depan.

Profesor ilmu atmosfer dan kelautan dan peneliti di Institut Penelitian Arktik dan Alpine CU Boulder, Alexandra John, menyebut emisi gas rumah kaca merupakan kontributor utama hilangnya es di Samudra Arktik. Zat tersebut dapat meningkatkan jumlah panas sinar matahari yang diserap lautan sehingga memperburuk pencairan es dan pemanasan di Kutub Utara.

Kondisi es yang menurun berdampak untuk seluruh makhluk di wilayah tersebut. Bagi hewan kutub Utara seperti anjing laut dan beruang kutub bisa kehilangan habitatnya.

Berita Terkait

Ragam Manfaat Rebusan Daun Bawang untuk Kesehatan Tubuh dan Cara Mengolahnya

Panduan Batas Aman Konsumsi Kafein Bagi Ibu Menyusui dan Daftar Minuman yang Perlu Diwaspadai Menurut WebMD

Sedangkan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir bisa terancam bencana. Karena es laut berperan dalam menahan dampak gelombang laut di daratan pesisir.

“Ketika es laut menyusut, gelombang laut akan semakin besar sehingga menyebabkan erosi pantai,” ujarnya.

Fenomena Arktik bebas es menurut Jahn tidak bisa dihindari, tetapi penggunaan emisi di masa depan akan menentukan seberapa sering kondisi tersebut bisa terjadi. Jika emisi di tingkat menengah, Arktik mungkin akan bebas es pada akhir musim panas dan awal musim gugur di bulan Agustus-Oktober.

Namun, jika emisi yang tercipta terus tinggi, Arktik bisa bebas es dalam jangka waktu sembilan bulan di akhir abad ini. Ketika mencair, Bumi tidak lagi akan terlihat berwarna putih karena es melainkan biru menjadi air laut.

“Jadi meskipun kondisi bebas es tidak dapat dihindari, kita tetap harus menjaga emisi serendah mungkin untuk menghindari kondisi bebas es yang berkepanjangan,” kata Jahn.

Kabar baiknya, tidak seperti es di Greenland, es di Samudra Arktik bersifat elastis. Sehingga bisa kembali dengan cepat jika atmosfer mendingin.

“Jika kita dapat menemukan cara untuk mengeluarkan kembali CO2 dari atmosfer di masa depan untuk membalikkan pemanasan, es laut akan tetap ada dan waktu pencairannya tidak lagi dalam satu dekade atau 10 tahun,” jelasnya.

Fenomena Kutub Utara

Pencairan es yang terjadi di kutub Utara menjadi tanda kiamat bukan ketika Samudra Arktik tidak memiliki es sama sekali di perairan. Melainkan ketika wilayah tersebut memenuhi ambang batas yang telah ditentukan.

Ambang batas ini yakni saat es kurang dari 1 juta km persegi atau kurang dari 20% tutup es minimum sepanjang musim di wilayah tersebut pada tahun 1980-an. Akhir-akhir ini, penurunan jumlah es di Arktik menjadi yang terbesar dalam beberapa dekade.

Per September hanya ada 3,3 juta kilometer persegi es di Samudra Arktik. Dengan demikian, angka ini semakin mendekati ambang batas.

John menjelaskan pihaknya telah menganalisis data ini. Hasilnya diketahui bila Arktik dapat berubah setiap hari di masa depan.

Untuk mencapai angka satu juta kilometer persegi, para ilmuwan memperkirakan akan terjadi empat tahun lebih awal hingga 18 tahun lebih awal. Hasil penelitian ini penting diketahui untuk memprediksi kapan Kutub Utara akan melalui kondisi bebas es pertama dalam sejarah.

“Samudra Arktik akan bebas es untuk pertama kalinya pada akhir Agustus atau awal September antara tahun 2020-an hingga 2030-an berdasarkan semua skenario emisi,” tutupnya. (detik)

Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • Refleksi HUT ke-436 Kota Medan, Fraksi PKS DPRD Medan Sampaikan Sejumlah Catatan Penting
  • Bazar UMKM Ramaikan APEKSI di Medan, PWPM Ikut Gerakkan Ekonomi Lokal
  • Laba Bersih PTPN IV PalmCo Melonjak 90 Persen Capai Rp7,08 Triliun pada 2025
  • HUT ke-436 Kota Medan: Stasiun Medan Layani 913 Ribu Pelanggan Selama Semester Pertama 2026
  • Pilihan Warna Baru New Honda BeAT Meluncur Simak Perubahan Desain dan Daftar Harganya
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial

@ 2020 SeputarSumut.com