Jakarta, SeputarSumut — Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memuncak setelah Iran secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk mempermalukan Amerika Serikat. Ancaman ini muncul sebagai respons atas pernyataan Presiden Donald Trump yang mulai membuka peluang untuk mengerahkan pasukan darat ke wilayah kedaulatan Iran.
Kesiapan tempur tingkat tinggi telah disiagakan oleh Pasukan Garda Revolusi Islam untuk menghadapi segala kemungkinan buruk. Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, menegaskan bahwa militer mereka siap melakukan tindakan ekstrem, termasuk menangkap atau menghabisi pasukan AS, apabila mereka benar-benar melintasi perbatasan negara.
Dunia Internasional: Iran Ancam Permalukan Militer Amerika Serikat Jika Nekat Lakukan Invasi Darat
“Kami mencatat adanya pernyataan dari sejumlah pejabat Amerika yang mengeklaim niat mereka untuk menerobos wilayah Iran melalui jalur darat dengan mengerahkan ribuan personel militer,” ujar Ali Larijani sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera pada Kamis (5/3).
Washington pun diperingatkan dengan keras mengenai konsekuensi fatal yang akan dihadapi jika tetap bersikeras memaksakan invasi. Meski situasi kian mencekam, Larijani menekankan bahwa Teheran telah menyusun berbagai skenario matang untuk mematahkan serangan dari pihak mana pun.
Semangat perlawanan terhadap aliansi AS-Israel dipastikan akan terus berkobar di pundak generasi penerus bangsa. Larijani menyebut para pejuang yang terinspirasi oleh kepemimpinan Ruhollah Khomeini dan Ali Khamenei kini dalam posisi bersiap menyambut kedatangan pasukan asing.
“Putra-putri Imam Khomeini dan Imam Khamenei yang pemberani kini tengah menunggu kalian. Kami siap mempermalukan para pejabat Amerika yang korup dengan cara membunuh atau menawan ribuan tentara kalian,” tegas Larijani dengan nada menantang.
Senada dengan otoritas keamanan, Abbas Araghchi selaku Menteri Luar Negeri Iran turut memperkuat pernyataan tersebut. Ia memastikan bahwa ancaman invasi dari negara paman sam tersebut tidak menimbulkan rasa takut sedikit pun bagi pemerintah maupun rakyat Iran.
“Sama sekali tidak, kami justru sedang menanti kedatangan mereka,” ungkap Araghchi saat diwawancarai oleh NBC News terkait isu pengerahan pasukan darat tersebut.
Araghchi juga memprediksi bahwa setiap upaya serangan darat yang dilakukan oleh pihak lawan hanya akan berakhir sebagai sebuah bencana besar bagi militer AS. Analisis ini merujuk pada kesiapan medan dan militansi pasukan lokal yang sudah sangat menguasai wilayah.
Rentetan komentar keras dari para pejabat tinggi Teheran ini merupakan reaksi langsung atas sikap Donald Trump. Dalam sebuah sesi wawancara dengan New York Times awal pekan ini, Trump menolak untuk menutup opsi pengiriman pasukan infanteri ke Iran.
“Saya tidak merasa khawatir tentang pengerahan pasukan darat. Berbeda dengan presiden lain yang selalu mengatakan ‘tidak akan ada pasukan darat’, saya tidak mengatakan hal itu,” tutur Trump. Ia menambahkan bahwa meski mungkin tidak dibutuhkan, opsi tersebut tetap tersedia jika memang situasi memerlukannya.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, juga menyuarakan kemungkinan serupa mengenai pengerahan militer ke jantung Iran. Meskipun saat ini dikonfirmasi belum ada personel AS yang masuk ke wilayah Iran, Hegseth menegaskan bahwa pintu untuk operasi darat tetap terbuka lebar.
“Pengerahan kekuatan tidak selalu berarti mengirimkan 200.000 personel untuk menduduki wilayah selama 20 tahun,” kata Hegseth seperti dikutip dari Al Jazeera, mengisyaratkan adanya strategi serangan yang berbeda dari konflik-konflik sebelumnya.
Eskalasi bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini sebenarnya telah pecah sejak pekan lalu. Konflik terbuka ini dipicu oleh gempuran masif Washington dan Tel Aviv ke wilayah Iran yang mengakibatkan gugurnya Ali Khamenei serta jatuhnya ribuan korban jiwa dari kalangan warga sipil.(*/cnni)


