Jakarta, SeputarSumut — Kesiapan Teheran untuk menggempur Israel jika Amerika Serikat (AS) benar-benar meluncurkan serangan ke Iran ditegaskan oleh Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Mayadeen, Shamkhani menegaskan bahwa Israel akan menjadi target utama apabila agresi militer AS terjadi. Pernyataan tegas ini menyusul langkah AS yang baru-baru ini menyiagakan jet tempur serta armada perang USS Abraham Lincoln di wilayah sekitar Iran.
Dunia Internasional: Iran Balas Israel Jika AS Berani Menyerang
Terkait potensi serangan dari Washington tersebut, Shamkhani meyakini bahwa Israel merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasi militer AS karena hubungan sekutu dekat mereka. Ia menegaskan bahwa setiap aksi serangan yang dipicu oleh AS akan memicu balasan langsung dari Teheran, termasuk serangan ke Tel Aviv.
“Amerika Serikat dan Israel bukanlah dua entitas yang berbeda. Faktanya mereka adalah satu kesatuan, sehingga jika AS menyerang, Israel sudah pasti terlibat dan harus menerima konsekuensi yang sesuai,” tutur Shamkhani sebagaimana dikutip dari kantor berita IRNA pada Selasa (3/2).
Pengerahan kekuatan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat sendiri dipicu oleh situasi internal di Iran, yakni aksi demonstrasi berdarah yang dilaporkan menelan ribuan korban jiwa. Presiden AS Donald Trump telah menyatakan janji untuk membantu rakyat Iran melawan tindakan otoritas, sekaligus berupaya menghentikan program rudal balistik serta pengembangan nuklir negara tersebut.
Di tengah situasi panas ini, Shamkhani juga memberikan tanggapan terkait tuntutan Washington mengenai kepemilikan uranium. Ia menyatakan dengan tegas bahwa Iran tidak akan menyerahkan cadangan uranium mereka karena seluruh proses pengembangan dilakukan murni untuk tujuan sipil.
Namun, Teheran menawarkan sedikit kelonggaran apabila pihak Gedung Putih merasa sangat khawatir dengan tingkat pengayaan uranium mereka. Shamkhani menyebut bahwa Iran bersedia menurunkan level pengayaan uranium dari 60 persen menjadi 20 persen dengan syarat tertentu.
“Kami bisa saja mengurangi pengayaan 60 persen tersebut menjadi 20 persen jika mereka cemas. Akan tetapi, mereka harus memberikan penawaran yang sepadan sebagai imbalannya,” jelasnya lebih lanjut.
Ketegangan antara Iran dan AS memang terus meruncing dalam beberapa waktu terakhir. Trump sebelumnya telah mengeluarkan ultimatum agar Iran bersedia kembali ke meja perundingan guna menyepakati perjanjian nuklir baru jika ingin menghindari opsi serangan militer.
Sebagai langkah tindak lanjut, Gedung Putih mengumumkan bahwa pembicaraan diplomatik dengan pihak Iran dijadwalkan akan berlanjut kembali pada pekan ini. Proses negosiasi tersebut rencananya bakal diselenggarakan di Oman pada Jumat (6/2) mendatang.(*/cnni)


