Jakarta, SeputarSumut — Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan bahwa pihaknya telah meluncurkan aksi serangan terhadap pangkalan Armada Kelima Amerika Serikat yang berlokasi di Bahrain pada Rabu (10/6) pagi. Langkah ofensif tersebut dilepaskan oleh pihak militer Iran sebagai bentuk tindakan balasan atas gempuran yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat di sejumlah area yang berada dekat dengan Selat Hormuz sebelumnya. Ketegangan dipicu oleh tuduhan Washington terhadap pihak Teheran yang disebut telah menembak jatuh sebuah helikopter tempur jenis Apache milik Angkatan Darat Amerika Serikat.
“Rezim AS yang penghasut perang menyerang beberapa titik di Jask, Sirik dan Qeshm pagi ini dengan dalih palsu, merusak tiang telekomunikasi di Sirik dan menghancurkan dua tangki air di kota itu,” kata IRGC dalam sebuah lembaran pernyataan resmi yang dikutip oleh media lokal Iran.
Dunia Internasional: IRGC Iran Serang Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain Sebagai Aksi Balasan
Melansir pemberitaan dari media AFP, pihak IRGC menyatakan telah mengambil langkah tegas terhadap pergerakan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut.
“Sebagai tanggapan atas tindakan kejam musuh, pesawat tempur angkatan laut IRGC melancarkan serangan pesawat tak berawak terhadap Angkatan Laut ke-5 Bahrain),” tambah lembaga militer tersebut.
Bukan hanya itu, jajaran komando IRGC juga melayangkan sebuah pesan peringatan keras bahwa mereka siap meluncurkan aksi respons yang dinilai bakal jauh lebih parah di masa mendatang, apabila tindakan agresi yang dipimpin oleh pihak militer Amerika Serikat terus berjalan secara berkesinambungan.
Berdasarkan catatan rekam peristiwa sebelumnya, gempuran udara paling mutakhir yang dilepaskan oleh militer Amerika Serikat ke dalam wilayah teritorial Iran pada Selasa (9/6) didapati telah menimbulkan kerusakan fisik pada fasilitas menara telekomunikasi serta meluluhlantakkan dua unit tangki air yang bertempat di kota pelabuhan Sirik, Iran.
Di koridor politik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan tuduhan kepada Iran yang dinilai bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter Apache sewaktu armada udara itu tengah menyelenggarakan misi pelayaran patroli pada Senin (8/6). Walakin, Trump memberikan klaim konfirmasi bahwa dua orang awak yang mengoperasikan helikopter bersangkutan dipastikan berada dalam kondisi selamat.
“Saya baru saja diberitahu oleh militer kami bahwa tadi malam Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache kami yang sangat canggih, saat berpatroli di Selat Hormuz,” tulis Trump melalui platform media sosial pribamanya.
Dirinya pun menambahkan penegasan singkat mengenai sikap negaranya.
“AS harus merespons ini,” imbuhnya.
Dalam peta kekuatan di lapangan, barisan militer Amerika Serikat tercatat mengandalkan operasional helikopter jenis Apache, pesawat tanpa awak atau drone bermerek MQ-9 Reaper, serta armada jet tempur bertipe F/A-18 dan F-25. Penempatan alutsista tersebut sengaja dikerahkan guna memberikan perlawanan terhadap kebijakan pemblokiran atau penutupan wilayah Selat Hormuz yang sempat dideklarasikan oleh pihak Iran pada beberapa waktu yang lalu.
Sepanjang dinamika pertempuran berlangsung, militer Iran sejauh ini diklaim sudah berhasil menembak jatuh kisaran 30 unit drone Reaper tanpa awak milik musuh. Di sisi lain, sejumlah armada pesawat jet tempur kepunyaan Amerika Serikat dilaporkan juga ikut lenyap akibat hantaman tembakan dari pihak lawan terhitung sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu.
Kendati demikian, peristiwa jatuhnya armada udara di kawasan Selat Hormuz pada awal pekan ini diproyeksikan bakal menjadi insiden perdana yang melibatkan unit helikopter Apache di dalam catatan sejarah konflik bersenjata kedua belah pihak.
Untuk diketahui, unit helikopter tempur bermerek AH-64 Apache, yang dalam spesifikasinya dipersenjatai dengan amunisi rudal berdaya ledak tinggi jenis Hellfire, diakui menduduki posisi sebagai salah satu varian pesawat tempur paling menakutkan yang aktif beroperasi di kawasan regional tersebut.(*/cnni)

