Jakarta, SeputarSumut — Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mencapai babak baru setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan keras terkait kontrol konflik di kawasan tersebut. IRGC menegaskan bahwa otoritas untuk menentukan kapan perang berakhir sepenuhnya berada di tangan Iran, sekaligus membantah klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam keterangan resminya yang dirilis pada Selasa (10/3), IRGC menggarisbawahi bahwa dinamika serta status masa depan wilayah Timur Tengah ditentukan oleh posisi Iran, bukan oleh kebijakan sepihak dari Gedung Putih. Pihak militer paling berpengaruh di Republik Islam tersebut merasa perlu memberikan respons langsung atas narasi yang berkembang di Washington.
Dunia Internasional: IRGC Tegaskan Iran yang Pegang Kendali Akhir Perang, Bukan Donald Trump
Langkah ini diambil menyusul pernyataan terbaru dari Donald Trump yang menyebutkan bahwa konfrontasi bersenjata di Timur Tengah akan segera menemui titik akhir dalam waktu dekat. Bagi IRGC, klaim tersebut tidak berdasar karena kendali lapangan tidak berada di pihak asing.
“Kamilah yang akan menentukan akhir perang,” bunyi pernyataan resmi IRGC pada Selasa (10/3) sebagaimana dilansir dari AFP.
Lebih lanjut, Garda Revolusi menekankan bahwa kekuatan angkatan bersenjata Iran saat ini merupakan faktor penentu stabilitas dan masa depan kawasan. Mereka secara terbuka menyatakan bahwa pasukan Amerika Serikat tidak memiliki kapasitas atau wewenang untuk menghentikan peperangan yang tengah berlangsung.
Sebelumnya, pada Senin (9/3), Presiden Donald Trump mengeklaim bahwa konflik antara blok AS-Israel melawan Iran—yang meletus sejak 28 Februari—akan tuntas dalam waktu singkat. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam sebuah konferensi pers di Florida dengan nada optimistis.
“Ini akan segera berakhir, dan jika dimulai lagi, mereka akan terkena dampak yang lebih parah,” tegas Trump di hadapan media.
Upaya Trump dalam melontarkan optimisme tersebut disinyalir bertujuan untuk menenangkan pasar global yang sedang mengalami guncangan hebat akibat kekhawatiran meluasnya konflik. Pada Senin (9/3), indeks bursa saham di berbagai belahan dunia rontok secara berjemaah, sementara harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2022.
Situasi di Teheran sendiri sedang berada dalam masa transisi penting setelah Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru. Putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei tersebut naik takhta untuk menggantikan ayahnya yang tewas akibat serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu.
Seiring dengan pengukuhan posisi Mojtaba, Iran langsung menunjukkan taringnya dengan meluncurkan rentetan rudal ke wilayah Israel serta beberapa negara Arab. Serangan ini menjadi sinyal kuat bahwa blokade Selat Hormuz—yang ditutup Iran sehari pasca serangan AS-Israel—kemungkinan besar akan terus berlanjut.
Meskipun tensi militer tetap tinggi, retorika Trump sempat memberikan dampak positif sementara pada sektor ekonomi. Pada perdagangan Selasa pagi, bursa Wall Street merangkak naik ke zona hijau, yang diikuti dengan pembukaan kuat di pasar saham Tokyo dan Seoul.
Kondisi pasar komoditas pun mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah sempat memanas. Harga minyak dunia tercatat mengalami penurunan sebesar lima persen, setelah sebelumnya sempat meroket hingga menyentuh angka US$119 per barel pada awal pekan.(*/cnni)


