Jakarta, SeputarSumut — Kematian Menteri Intelijen Esmail Khatib dalam serangan udara yang dilancarkan Israel semalam telah dikonfirmasi secara resmi oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Insiden berdarah ini menambah daftar panjang ketegangan di kawasan tersebut, di mana Khatib menjadi pejabat tinggi ketiga yang tewas di tangan Israel hanya dalam kurun waktu dua hari terakhir.
Gelombang serangan udara Israel pada Selasa (17/3) sebelumnya juga telah merenggut nyawa tokoh-tokoh kunci lainnya di pemerintahan Iran. Dilaporkan bahwa Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, serta pimpinan pasukan paramiliter Basij turut gugur dalam rangkaian operasi militer yang dilancarkan oleh pasukan Zionis tersebut.
Dunia Internasional: Israel Bunuh Menteri Intelijen Iran, Presiden Masoud Pezeshkian Konfirmasi Kematian Esmail Khatib
Melalui unggahan di platform X yang dikutip dari Al Jazeera, Presiden Pezeshkian menyampaikan duka mendalam sekaligus kecaman keras atas peristiwa tersebut. “Mengutuk pembunuhan pengecut terhadap rekan-rekan saya yang terkasih. Hal itu membuat kami patah hati. Jalan mereka akan berlanjut lebih kuat dari sebelumnya,” tulis Pezeshkian menegaskan sikap Iran.
Di mata analis militer Israel, sosok Esmail Khatib bukan sekadar menteri biasa, melainkan figur kepercayaan yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei. Pentingnya posisi Khatib menjadikannya target bernilai tinggi dalam operasi intelijen Israel di wilayah Teheran.
Nida Ibrahim dari Al Jazeera melaporkan bahwa pihak berwenang di Tel Aviv mengklaim telah mengantongi data intelijen yang sangat akurat. “Menurut sumber-sumber Israel, mereka mengatakan telah mengumpulkan intelijen yang memungkinkan mereka dalam 24 jam terakhir, untuk mengumumkan kematian tiga pejabat senior Iran,” jelasnya mengenai keberhasilan operasi tersebut.
Sejalan dengan aksi militer tersebut, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa dirinya bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengeluarkan mandat khusus. Mandat ini memberikan otorisasi penuh kepada militer Israel untuk melenyapkan pejabat senior Iran yang masuk dalam daftar target tanpa perlu lagi menunggu persetujuan per kasus.
Tekanan terhadap pemerintah Iran juga datang dari pihak sekutu Israel, di mana Departemen Luar Negeri Amerika Serikat turut mengambil langkah provokatif. AS secara resmi menawarkan hadiah fantastis sebesar US$10 juta atau setara Rp170 miliar bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi mengenai keberadaan Mojtaba Khamenei serta pejabat tinggi Iran lainnya.
Menanggapi tekanan bertubi-tubi dari Washington dan Tel Aviv, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan jawaban menohok. Ia menegaskan bahwa AS dan Israel gagal memahami struktur pemerintahan Iran yang diklaim tidak akan goyah hanya karena kehilangan individu tertentu, karena sistem mereka tidak bergantung pada satu sosok saja.
Rekam jejak Israel dalam melakukan pembunuhan terhadap musuh-musuhnya memang telah berlangsung selama bertahun-tahun, termasuk menyasar tokoh-tokoh Palestina. Banyak pemimpin Hamas, baik yang berada di dalam maupun di luar Jalur Gaza, yang telah menjadi korban operasi pembunuhan terencana tersebut.
Selama lebih dari dua tahun agresi dan genosida di Gaza, sejumlah tokoh penting Hamas tercatat telah tewas di tangan militer Israel. Nama-nama besar seperti Yahya Sinwar, Mohammed Deif, hingga Ismail Haniyeh merupakan deretan pemimpin yang telah dinyatakan gugur dalam rangkaian konflik panjang tersebut.(*/cnni)


