Medan, SeputarSumut – Harga jagung pipilan di pasar saat ini berada dalam rentang transaksi yang cukup tinggi, yakni sekitar Rp7.200 hingga Rp7.500 per Kilogram. Tingginya harga ini menimbulkan keraguan di kalangan pelaku usaha.
Berdasarkan hasil observasi lapangan, banyak perusahaan pakan dan petani yang meragukan kemungkinan harga jagung akan turun dalam waktu dekat. Bahkan, sebagian besar dari mereka meyakini bahwa harga komoditas ini cenderung akan tetap mahal, setidaknya hingga bulan Maret mendatang.
Berita Ekonomi: Jagung Mahal: Peternak Risau, Impor Jadi Solusi
Mahalnya harga jagung saat ini tidak hanya menciptakan kekhawatiran akan terjadinya kenaikan harga pada produk turunan. Kenaikan harga jagung dapat memicu melonjaknya harga daging ayam dan telur ayam. Lebih jauh, situasi ini juga memaksa perusahaan pakan ternak untuk mencari dan beralih ke sumber bahan pakan alternatif yang harganya lebih bersahabat. Saat ini, sumber pakan dari olahan singkong (gaplek) menjadi opsi yang paling dicari.
Dampak dari kenaikan harga jagung kini mulai dirasakan oleh produsen daging sapi. Beberapa dari mereka mulai mengeluhkan adanya lonjakan permintaan gaplek yang dialihkan untuk pakan ternak ayam, khususnya ayam broiler. Rentetan kenaikan harga jagung ini dikhawatirkan akan mendorong kenaikan harga pokok produksi (HPP) sapi potong di masa mendatang. Pada akhirnya, kenaikan biaya produksi ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga jual daging sapi di pasaran.
Meskipun konsumsi daging sapi belakangan ini mengalami kenaikan yang didorong oleh adanya program pemerintah “Makan Bergizi Gratis” (MBG), kekhawatiran tetap membayangi peternak. Peternak mengkhawatirkan dua hal utama yang dapat menekan angka penjualan: Pertama, adanya kecenderungan penurunan konsumsi daging sapi oleh masyarakat di luar program MBG. Kedua, munculnya kekhawatiran akan pengalihan sumber bahan pangan protein substitusi yang dapat dilakukan oleh dapur pelaksana program MBG.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai bahwa pemerintah perlu segera mengambil langkah tegas. Ia memprediksi harga jagung akan sulit untuk ditekan jika pemerintah tidak melakukan intervensi impor.
“Saya menilai jika pemerintah tidak melakukan impor jagung, saya pikir harga jagung masih sulit untuk ditekan,” tegas Gunawan Benjamin saat dihubungi pada Senin (24/11/2025).
Menurutnya, kenaikan harga jagung yang terjadi saat ini berpotensi mengganggu program pemerintah yang tengah berupaya mencapai swasembada produk pertanian.
“Ini menunjukan bahwa eksekusi program MBG belum sepenuhnya mampu diantisipasi dengan menghasilkan sumber bahan lokal dengan harga yang stabil,” kritik Gunawan Benjamin, menyoroti bahwa kenaikan harga komoditas utama pakan ternak menunjukkan adanya ketidakstabilan pasokan lokal untuk mendukung program strategis nasional.(Siong)


