Sabtu, Juli 4, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
Iklan PT Indako Trading Coy
Beranda Ekonomi

Jagung Mahal: Peternak Risau, Impor Jadi Solusi

Oleh Redaksi 15
Senin, 24 November 2025
Foto: Ilustrasi jagung.(Istimewa)

Ilustrasi jagung.(Istimewa)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Medan, SeputarSumut – ​Harga jagung pipilan di pasar saat ini berada dalam rentang transaksi yang cukup tinggi, yakni sekitar Rp7.200 hingga Rp7.500 per Kilogram. Tingginya harga ini menimbulkan keraguan di kalangan pelaku usaha.

​Berdasarkan hasil observasi lapangan, banyak perusahaan pakan dan petani yang meragukan kemungkinan harga jagung akan turun dalam waktu dekat. Bahkan, sebagian besar dari mereka meyakini bahwa harga komoditas ini cenderung akan tetap mahal, setidaknya hingga bulan Maret mendatang.

Berita Ekonomi: Jagung Mahal: Peternak Risau, Impor Jadi Solusi

Iklan Indako SeputarSumut

​Mahalnya harga jagung saat ini tidak hanya menciptakan kekhawatiran akan terjadinya kenaikan harga pada produk turunan. Kenaikan harga jagung dapat memicu melonjaknya harga daging ayam dan telur ayam. Lebih jauh, situasi ini juga memaksa perusahaan pakan ternak untuk mencari dan beralih ke sumber bahan pakan alternatif yang harganya lebih bersahabat. Saat ini, sumber pakan dari olahan singkong (gaplek) menjadi opsi yang paling dicari.

​Dampak dari kenaikan harga jagung kini mulai dirasakan oleh produsen daging sapi. Beberapa dari mereka mulai mengeluhkan adanya lonjakan permintaan gaplek yang dialihkan untuk pakan ternak ayam, khususnya ayam broiler. Rentetan kenaikan harga jagung ini dikhawatirkan akan mendorong kenaikan harga pokok produksi (HPP) sapi potong di masa mendatang. Pada akhirnya, kenaikan biaya produksi ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga jual daging sapi di pasaran.

​Meskipun konsumsi daging sapi belakangan ini mengalami kenaikan yang didorong oleh adanya program pemerintah “Makan Bergizi Gratis” (MBG), kekhawatiran tetap membayangi peternak. Peternak mengkhawatirkan dua hal utama yang dapat menekan angka penjualan: Pertama, adanya kecenderungan penurunan konsumsi daging sapi oleh masyarakat di luar program MBG. Kedua, munculnya kekhawatiran akan pengalihan sumber bahan pangan protein substitusi yang dapat dilakukan oleh dapur pelaksana program MBG.

Berita Terkait

Pertamina Patra Niaga Sumbagut Gelar Pelatihan Go Global Academy Bareng Universitas Riau Demi Dorong UMKM Tembus Pasar Internasional

Antusiasme Libur Sekolah Tinggi, KAI Sumut Kembali Operasikan KA Sribilah Fakultatif Rute Medan-Rantauprapat

​Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai bahwa pemerintah perlu segera mengambil langkah tegas. Ia memprediksi harga jagung akan sulit untuk ditekan jika pemerintah tidak melakukan intervensi impor.

​“Saya menilai jika pemerintah tidak melakukan impor jagung, saya pikir harga jagung masih sulit untuk ditekan,” tegas Gunawan Benjamin saat dihubungi pada Senin (24/11/2025).

​Menurutnya, kenaikan harga jagung yang terjadi saat ini berpotensi mengganggu program pemerintah yang tengah berupaya mencapai swasembada produk pertanian.

​“Ini menunjukan bahwa eksekusi program MBG belum sepenuhnya mampu diantisipasi dengan menghasilkan sumber bahan lokal dengan harga yang stabil,” kritik Gunawan Benjamin, menyoroti bahwa kenaikan harga komoditas utama pakan ternak menunjukkan adanya ketidakstabilan pasokan lokal untuk mendukung program strategis nasional.(Siong)

Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • Empat Rumah Warga di Pintu Bosi Tapanuli Utara Hangus Terbakar
  • Pertamina Patra Niaga Sumbagut Gelar Pelatihan Go Global Academy Bareng Universitas Riau Demi Dorong UMKM Tembus Pasar Internasional
  • Umat Buddha di Medan Tembung Rayakan Sejit Dewa Zhang Tien She dengan Khidmat
  • Antusiasme Libur Sekolah Tinggi, KAI Sumut Kembali Operasikan KA Sribilah Fakultatif Rute Medan-Rantauprapat
  • Sektor Jasa Keuangan Sumatera Utara Tetap Stabil dan Tumbuh Positif, Intermediasi Perbankan Berjalan Baik
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial

@ 2020 SeputarSumut.com