Jakarta, SeputarSumut — Tingkat keberhasilan kontrol tekanan darah pada pengidap hipertensi di Indonesia saat ini tergolong masih sangat ironis karena belum mampu menyentuh angka 20 persen. Padahal, angka akumulatif masyarakat di tanah air yang hidup dengan kondisi kesehatan ini diperkirakan sudah menembus angka 57 juta jiwa.
Kondisi keprihatinan tersebut disampaikan oleh Ketua Indonesian Society of Hypertension (INASH), Eka Harmeiwati. Dirinya memaparkan bahwa rendahnya presentasi tingkat keterkontrolan tersebut memicu persentase kasus komplikasi akibat hipertensi di dalam negeri masih berada pada level yang sangat mengkhawatirkan, dengan rentetan dampak mulai dari penyakit stroke, gagal jantung, hingga kerusakan gagal ginjal.
Pernik Ragam: Jumlah Penderita Hipertensi di Indonesia Tembus 57 Juta Jiwa, Tingkat Tekanan Darah Terkontrol Masih di Bawah 20 Persen
“Di Indonesia itu menurut Kemenkes sekarang ada 57 juta penderita hipertensi. Bayangkan, 57 juta. Dan yang terkontrol itu cuma sedikit, tidak sampai 20 persen,” kata Eka ditemui saat hadir dalam acara SF Series Launching yang digelar Omron, di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (20/5).
Lebih lanjut Eka menerangkan, keberadaan penyakit tekanan darah tinggi ini kerap kali tidak disadari oleh para penderitanya akibat proses kemunculan gejala yang berlangsung secara bertahap dan perlahan. Akibatnya, sebagian besar masyarakat baru menyadari bahwa tubuh mereka mengidap hipertensi setelah munculnya serangan komplikasi yang bersifat serius.
“Hipertensi ini menimbulkan gejalanya lamban, bisa 10 tahun kemudian,” ujarnya.
Berdasarkan penjelasan Eka, mekanisme kerja dari hipertensi ini adalah dengan merusak area dinding pembuluh darah secara perlahan dalam rentang waktu yang panjang. Oleh sebab itu, warga sangat dianjurkan untuk mulai membiasakan diri melakukan pengukuran kadar tekanan darah secara berkala terhitung sejak menginjak usia 18 tahun.
Dampak buruk dari tekanan darah tinggi ini dijabarkan Eka tidak melulu sebatas pada serangan stroke atau kelainan jantung sebagaimana pemahaman yang jamak beredar di tengah publik selama ini. Lebih dari itu, gangguan pada sistem penglihatan hingga penurunan fungsi kognitif berupa demensia juga dapat dipicu oleh adanya hipertensi.
Efek negatif lain yang timbul akibat paparan hipertensi adalah risiko terjadinya gangguan irama jantung atau yang dikenal dengan istilah ‘atrial fibrillation’ (AF). Masalah kesehatan ini berakibat pada ketidakaturan detak jantung serta memicu peningkatan drastis pada risiko kelumpuhan akibat stroke.
“AF itu bisa meningkatkan risiko stroke sampai lima kali. Dan 20 sampai 30 persen pasien stroke iskemik itu karena AF,” ujar Eka.
Dirinya mengungkapkan pula jika porsi sekitar 60 hingga 80 persen dari total kasus ‘atrial fibrillation’ memiliki keterkaitan erat dengan riwayat penyakit hipertensi. Bahkan, diperkirakan ada sekitar 10 persen dari total penderita tekanan darah tinggi yang berpotensi mengalami kelainan pada irama jantung tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Eka memberikan sorotan tajam terhadap tingginya aspek pemicu risiko hipertensi di kalangan masyarakat dalam negeri, di mana poin utamanya bersumber dari perilaku merokok serta tingginya tingkat konsumsi zat garam.
“Merokok itu di Asia Tenggara, Indonesia itu penyebab hipertensi paling tinggi,” katanya.
Ia turut memberikan peringatan bahwa populasi masyarakat di kawasan Asia, termasuk warga Indonesia, mempunyai tingkat kepekaan yang terbilang tinggi terhadap asupan garam atau masuk kategori ‘salt sensitive’. Karakteristik biologis inilah yang menyebabkan tubuh menjadi jauh lebih rentan mengalami lonjakan tekanan darah sesudah mengonsumsi jenis makanan yang bercita rasa asin.
Melihat berbagai risiko tersebut, Eka memberikan penekanan mengenai krusialnya langkah proteksi sejak dini yang diimplementasikan lewat penerapan pola hidup sehat, aktivitas olahraga secara teratur, pengendalian berat badan ideal, pemenuhan waktu istirahat tidur yang cukup, dan pengecekan tensi darah secara rutin.
“Kalau faktor risiko itu bisa diminimalkan, berarti kita bisa mencegah hipertensi, sekaligus mencegah AF dan stroke,” jelasnya.(*/cnni)


