Jakarta, SeputarSumut — Aksi pembajakan kapal kembali terjadi di wilayah perairan internasional setelah kapal tanker minyak Honour 25 dilaporkan telah dikuasai oleh perompak di lepas pantai Somalia. Di dalam kapal tersebut terdapat 17 orang awak kapal yang menjadi korban, di mana empat di antaranya teridentifikasi sebagai warga negara Indonesia (WNI).
Rincian mengenai kewarganegaraan para kru kapal yang berada di bawah penguasaan pembajak terdiri atas sepuluh warga negara Pakistan, empat warga negara Indonesia, serta masing-masing satu orang warga negara dari India, Sri Lanka, dan Myanmar.
Dunia Internasional: Kapal Tanker Minyak Honour 25 Dibajak di Lepas Pantai Somalia Bawa 17 Awak Termasuk WNI
Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh para pejabat di Somalia, peristiwa pembajakan ini bermula pada tanggal 22 April malam waktu setempat. Kelompok perompak yang terdiri atas enam orang bersenjata dilaporkan menyerbu masuk dan mengambil alih kapal yang sedang mengangkut muatan sebanyak 18.500 barel minyak tersebut.
Pihak berwenang memiliki dugaan kuat bahwa para pelaku pembajakan tersebut berangkat memulai aksinya dari sebuah kawasan terpencil yang berada di dekat wilayah Bander Beyla. Laporan mengenai gangguan keamanan di laut ini juga dikonfirmasi oleh militer Inggris melalui Unit Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya.
Dalam pernyataan resminya, otoritas militer Inggris menyebutkan bahwa kelompok bersenjata yang tidak memiliki wewenang tersebut telah memegang kendali penuh atas kapal tanker. Mereka kemudian mengarahkan pergerakan kapal menuju ke arah selatan di dalam area perairan teritorial milik Somalia.
Mengenai riwayat perjalanan kapal, situs web ShipAtlas mencatat bahwa kapal tersebut mulai berlayar meninggalkan pelabuhan Berbera pada 20 Februari. Kapal tersebut sampai di perairan dekat Uni Emirat Arab tidak lama setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Data pemantauan peta pelayaran menunjukkan kapal sempat bergerak berputar-putar di area perairan yang berdekatan dengan pintu masuk Selat Hormuz. Selanjutnya, pada tanggal 2 April, kapal mengubah arah perjalanannya menuju ke Mogadishu hingga akhirnya terjadi insiden pembajakan. Sampai saat ini, pemerintah Somalia masih belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kejadian tersebut.
Fenomena pembajakan di kawasan Samudra Hindia sebelumnya sempat dinilai nyaris tidak ada dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir setelah sempat dikenal sangat rawan. Namun, saat ini tren aksi ilegal tersebut kembali menunjukkan peningkatan dengan sasaran yang kini mulai menyasar kapal kontainer maupun kapal penangkap ikan.
Keamanan di jalur pelayaran global tersebut kini semakin berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan seiring dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Hal ini merupakan imbas dari serangan pihak Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menutup jalur Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan diplomatik serta penargetan terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan kedua negara tersebut.(*/cnni)

