Jakarta, SeputarSumut — Tekanan berulang pada saraf yang memicu kondisi saraf kejepit ternyata tidak selalu disebabkan oleh aktivitas berat seperti mengangkat beban atau cedera olahraga, melainkan bisa dipicu oleh kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele. Karena proses penekanan ini berlangsung secara bertahap dan sedikit demi sedikit, banyak orang tidak menyadari penyebabnya sampai gejala fisik seperti rasa nyeri, kesemutan, hingga mati rasa mulai timbul.
Merujuk pada penjelasan di laman Mayo Clinic, saraf kejepit atau pinched nerve merupakan sebuah kondisi yang terjadi sewaktu saraf mengalami tekanan dari jaringan yang berada di sekitarnya, seperti tulang, otot, tendon, atau bantalan tulang belakang. Gangguan ini berpotensi merusak fungsi saraf dan memicu berbagai keluhan kesehatan seperti rasa nyeri, kesemutan, mati rasa, hingga terjadinya kelemahan pada otot.
Kondisi saraf kejepit ini juga dapat menyerang berbagai area tubuh manusia. Gangguan ini bisa muncul di bagian leher atau punggung, di mana penyebabnya sering kali berkaitan erat dengan masalah bantalan tulang belakang yang menonjol atau herniated disc. Di samping itu, penyumbatan atau penekanan saraf juga dapat terjadi pada pergelangan tangan serta punggung bagian bawah yang memicu rasa nyeri menjalar hingga ke kaki atau dikenal dengan istilah linu panggul (sciatica).
Terdapat beberapa kebiasaan sederhana yang tanpa disadari menjadi bagian dari rutinitas harian dan terbukti meningkatkan risiko terjadinya saraf kejepit. Kebiasaan pertama adalah terlalu lama berada dalam posisi tubuh yang sama, seperti duduk berjam-jam di depan komputer, berbaring tanpa mengubah posisi, atau terlalu lama menyilangkan kaki. Mempertahankan satu posisi tubuh dalam jangka waktu panjang menjadi faktor utama yang memicu kompresi saraf karena adanya tekanan konstan, terutama jika tubuh kurang bergerak. Langkah antisipasi yang disarankan adalah rutin mengubah posisi, berdiri, atau melakukan peregangan di sela-sela aktivitas duduk yang lama.
Kebiasaan kedua yang perlu diwaspadai adalah terlalu sering melakukan gerakan yang sama secara berulang-ulang. Aktivitas fisik seperti mengetik, menggunakan tetikus komputer, bekerja di lini produksi pabrik, hingga melakukan olahraga dengan gerakan monoton dapat memberikan tekanan beruntun pada sistem saraf. Risiko gangguan ini akan menjadi jauh lebih besar apabila aktivitas-aktivitas tersebut terus dilakukan tanpa adanya jeda istirahat yang cukup. Menyediakan waktu jeda singkat untuk beristirahat serta melakukan peregangan ringan dinilai sangat membantu dalam meminimalkan tekanan pada otot dan saraf.
Kebiasaan ketiga yang sering kali diabaikan oleh banyak orang adalah membiarkan postur tubuh dalam posisi membungkuk. Berdasarkan informasi dari Journal of Hand Therapy, posisi tubuh yang statis disertai postur yang buruk secara langsung dapat menaikkan tekanan pada saraf, memicu pemendekan otot, serta menyebabkan ketidakseimbangan otot yang pada akhirnya menekan jaringan saraf. Beberapa contoh konkret dari kebiasaan buruk ini antara lain menunduk terlalu lama saat mengoperasikan ponsel atau ‘text neck’, membungkuk sewaktu bekerja menghadap laptop, hingga posisi tidur yang memberikan tekanan menetap pada salah satu sisi tubuh saja. Walaupun efeknya tidak selalu dirasakan seketika, tekanan kumulatif dalam jangka panjang ini berpotensi besar memicu kompresi saraf.
Pada akhirnya, munculnya gangguan saraf kejepit terbukti tidak hanya didominasi oleh faktor cedera atau beban kerja fisik yang berat saja. Berbagai rutinitas harian yang tampak sederhana juga memberikan kontribusi nyata jika terus dilakukan tanpa disertai dengan perubahan posisi tubuh atau peregangan yang cukup. Oleh sebab itu, menerapkan upaya pencegahan melalui menjaga postur tubuh agar tetap ideal, aktif bergerak secara berkala, serta menyisipkan waktu jeda di tengah aktivitas berulang merupakan langkah sederhana yang efektif untuk menekan risiko terjadinya saraf kejepit.(*/cnni)

