Jakarta, SeputarSumut — Di tengah berkecamuknya pertempuran antara aliansi Amerika Serikat-Israel melawan Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan tengah melakukan operasi pencarian besar-besaran terhadap sekitar 11.000 tentara Amerika Serikat yang tersebar di wilayah Timur Tengah. Langkah ini menandai eskalasi baru dalam upaya Iran untuk melumpuhkan keberadaan militer Washington di kawasan tersebut.
Guna memperlancar operasi ini, sayap intelijen IRGC secara resmi telah mengeluarkan maklumat yang menginstruksikan seluruh warga Iran di berbagai negara Timur Tengah untuk berpartisipasi memberikan data akurat. Instruksi tersebut berfokus pada pelacakan posisi personel militer AS yang dianggap sebagai target operasi intelijen.
Dunia Internasional: Ketegangan Meningkat: Intelijen IRGC Iran Buru 11 Ribu Tentara Amerika Serikat di Timur Tengah
“Pihak organisasi intelijen IRGC telah menyerukan pengumpulan informasi mengenai pasukan AS di seluruh wilayah Timur Tengah. Mereka meminta bantuan warga setempat untuk mengidentifikasi keberadaan 11.000 tentara Amerika yang saat ini menetap di hotel maupun tempat akomodasi pribadi,” tulis laporan Al Jazeera yang mengutip kantor berita Tasnim, Jumat (13/3).
Berdasarkan laporan tersebut, pihak IRGC mengeluarkan klaim serius bahwa tentara Amerika Serikat memiliki niat tersembunyi untuk menjadikan masyarakat Arab sebagai tameng pelindung. Menurut pesan yang disebarkan, kehadiran militer AS di pemukiman sipil dianggap membahayakan penduduk lokal.
Sejalan dengan seruan tersebut, IRGC memberikan peringatan keras kepada masyarakat Iran agar tidak memberikan perlindungan dalam bentuk apa pun kepada personel militer Amerika di tengah situasi perang. Dalam pernyataan resminya, otoritas Teheran secara tegas menyematkan status teroris kepada para tentara AS tersebut.
“Saat ini kami berada dalam posisi yang mengharuskan untuk melakukan identifikasi serta penargetan terhadap pihak Amerika. Oleh sebab itu, kami menyarankan agar tidak menampung mereka di hotel dan masyarakat diharapkan segera menjauh dari lokasi keberadaan mereka,” tegas pihak intelijen IRGC.
Lebih lanjut, Garda Revolusi Iran menekankan bahwa melaporkan titik persembunyian militer Amerika merupakan sebuah kewajiban moral bagi umat Islam. Mereka menyediakan kanal khusus melalui aplikasi Telegram agar masyarakat dapat mengirimkan data mengenai keberadaan sosok yang mereka sebut sebagai “teroris Amerika” secara akurat.
Kondisi geopolitik di kawasan tersebut kian membara pasca suksesi kepemimpinan tertinggi Iran kepada Mojtaba Khamenei. Pemimpin baru tersebut telah bersumpah akan melancarkan aksi balas dendam yang lebih besar atas serangan maut pada 28 Februari lalu yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei.
Tragedi pada akhir Februari itu memang memberikan pukulan telak bagi Teheran karena tidak hanya merenggut nyawa pemimpin tertinggi, tetapi juga melenyapkan banyak jajaran elit kepemimpinan Iran lainnya. Selain itu, serangan udara AS yang menghantam Kota Minab dilaporkan telah mengakibatkan gugurnya lebih dari 170 siswi sekolah dasar.
Merespons ancaman dari pemimpin baru Teheran tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan tandingan yang sangat keras. Netanyahu secara terbuka menegaskan bahwa pihaknya tidak segan untuk mengambil langkah militer demi mengeliminasi Mojtaba Khamenei sebagai bentuk pertahanan diri Israel.(*/cnni)


