Medan, SeputarSumut — Indeks Harga Konsumen (IHK) secara nasional mencatatkan inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 3,55 persen pada Januari 2026, dengan angka indeks berada di level 109,75.
Statistik Ahli Utama Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara (BPS Sumut), Misfaruddin, menjelaskan bahwa terdapat variasi angka inflasi yang cukup signifikan di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun, Provinsi Aceh tercatat mengalami inflasi y-on-y tertinggi di tingkat provinsi, yakni mencapai 6,69 persen dengan IHK 114,23.
Berita Ekonomi: Kota Gunungsitoli Alami Inflasi 8,68 Persen
“Sementara itu, jika kita melihat di tingkat kabupaten atau kota, kenaikan harga paling tinggi secara nasional terjadi di Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, dengan angka inflasi sebesar 8,68 persen dan IHK 116,41,” ujar Misfaruddin dalam keterangannya di Medan, Senin (02/02/2026).
Sebaliknya, Provinsi Lampung menjadi wilayah dengan tingkat inflasi tahunan terendah di level provinsi, yaitu hanya 1,90 persen dengan IHK 109,71. Untuk tingkat kabupaten/kota, inflasi y-on-y paling rendah tercatat di Kabupaten Minahasa Selatan sebesar 0,99 persen dengan IHK sebesar 109,67.
Lonjakan inflasi secara tahunan ini didorong oleh kenaikan harga pada mayoritas kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 15,22 persen, disusul oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak signifikan hingga 11,93 persen.
Misfaruddin juga merincikan kenaikan pada sektor lainnya. “Kelompok kesehatan naik sebesar 1,62 persen, kemudian kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat inflasi 1,54 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 1,36 persen,” jelasnya.
Sektor pendidikan juga memberikan kontribusi inflasi sebesar 1,11 persen, diikuti kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,05 persen. Kelompok transportasi mengalami kenaikan 0,58 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,56 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,16 persen.
Di tengah tren kenaikan tersebut, hanya terdapat satu sektor yang mengalami penurunan harga. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatatkan deflasi atau penurunan indeks sebesar 0,19 persen pada periode yang sama.
Melihat pergerakan harga dalam jangka pendek, kondisi Januari 2026 justru menunjukkan fenomena yang berbeda dibandingkan data tahunan. Tingkat deflasi month-to-month (m-to-m) dan tingkat deflasi year to date (y-to-d) pada awal tahun ini masing-masing berada di angka 0,15 persen.
Misfaruddin menambahkan, untuk komponen inti, tingkat inflasi y-on-y pada Januari 2026 tercatat sebesar 2,45 persen. Sedangkan untuk tingkat inflasi m-to-m serta y-to-d pada komponen inti ini masing-masing terpantau sebesar 0,37 persen.
BPS Sumut terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan IHK guna memberikan gambaran akurat mengenai stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat di tengah dinamika harga pasar yang fluktuatif, khususnya di wilayah Sumatera Utara yang memiliki angka inflasi cukup tinggi di beberapa daerahnya.(Siong)

