Rabu, Juli 1, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
Iklan PT Indako Trading Coy
Beranda Internasional

Krisis Energi Global: Warga Amerika Serikat Geram Akibat Lonjakan Harga BBM Dampak Perang

Oleh Redaksi 15
Rabu, 1 April 2026
Foto: ilustrasi BBM

ilustrasi BBM

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Jakarta, SeputarSumut — Kemarahan publik merebak di berbagai penjuru Amerika Serikat (AS) menyusul melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) sebagai imbas langsung dari konflik bersenjata antara AS-Israel melawan Iran. Situasi ini memicu tekanan ekonomi yang berat bagi warga di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah.

Laporan dari AFP menyebutkan bahwa harga bensin di sejumlah wilayah Amerika Serikat pada Selasa (31/3) mengalami kenaikan drastis hingga 35 persen. Angka ini secara signifikan telah melampaui batas psikologis harga sebesar US$4 atau sekitar Rp68 ribu yang sebelumnya ditetapkan oleh otoritas negara tersebut.

Dunia Internasional: Krisis Energi Global: Warga Amerika Serikat Geram Akibat Lonjakan Harga BBM Dampak Perang

Iklan Indako SeputarSumut

Kekagetan luar biasa dirasakan oleh Jeanne Williams, seorang warga berusia 83 tahun yang sedang melakukan perjalanan dari Richmond, Virginia, menuju Falls Church. Saat melihat papan LED di pom bensin Liberty, ia mengaku tidak percaya dengan angka yang tertera dan merasa sangat terbebani dengan situasi tersebut.

“Kondisi ini sungguh mengerikan. Perasaan saya campur aduk antara bingung, kacau, dan sangat tidak senang dengan apa yang terjadi,” ungkap Jeanne mengungkapkan kegelisahannya.

Ia juga menegaskan bahwa konflik yang terjadi saat ini bukanlah keinginan rakyat sipil. “Kami sama sekali tidak meminta peperangan ini terjadi,” cetusnya dengan nada kecewa.

Berita Terkait

Jalur Trem Jerman Meleleh Akibat Cuaca Panas Ekstrem Menembus 41 Derajat Celsius

Kemajuan Produksi Pesawat Tempur Siluman J-35 Tiongkok Diklaim Semakin Canggih

Di lokasi tujuan Williams, tepatnya di Falls Church, tarif bensin terpantau mulai dari US$3,7 atau sekitar Rp63 ribu per galon, namun harga tersebut hanya berlaku untuk pembayaran tunai. Konsumen dipastikan harus membayar lebih mahal jika mereka memilih bertransaksi menggunakan kartu debit maupun kartu kredit.

Kenyataan pahit lainnya ditemukan pada pom bensin yang lokasinya sedikit lebih jauh dari titik tujuan Williams. Di tempat tersebut, harga bensin bahkan sudah menembus angka US$4,25 atau setara dengan Rp72 ribu untuk setiap galonnya.

Sebagai seorang pensiunan pegawai negeri sipil yang kini tengah berjuang melawan penyakit kanker, Williams awalnya menganggap uang pensiunnya berada dalam kategori “cukup layak”. Namun, biaya hidup di Amerika Serikat yang terus merangkak naik memaksanya untuk mulai menguras tabungan pribadi demi bertahan hidup.

“Saya merasa beruntung tidak memiliki tanggungan anak atau pasangan. Saat ini saya hanya mengandalkan apa yang saya miliki untuk diri sendiri dan mencoba membantu saudara perempuan saya semampu saya,” tutur Williams.

Meskipun tingkat inflasi di Amerika Serikat sempat menunjukkan tren penurunan dari puncaknya sebesar 9,1 persen saat pandemi Covid-19, harga barang kebutuhan pokok tetap bertahan di level tinggi. Krisis energi yang dipicu oleh peperangan di Iran menjadi faktor utama yang menjegal stabilitas ekonomi domestik saat ini.

Beban hidup yang semakin mencekik juga dirasakan oleh Luis Ramos, warga New York City yang baru berusia 26 tahun. Kepada AFP, ia menyampaikan keluh kesahnya mengenai biaya operasional harian yang sudah tidak masuk akal lagi bagi kalangan muda.

“Ini benar-benar luar biasa dan tidak masuk akal. Biaya hidup sudah sangat tinggi, ditambah lagi dengan harga bensin yang meroket tajam seperti ini,” ujar Luis saat ditemui di sebuah pom bensin di kawasan New Jersey.

Pengalaman serupa dialami oleh David Lee, pria berusia 39 tahun yang rutin mengisi tangki kendaraannya dua kali seminggu di pinggiran kota Washington. Ia menyadari ada selisih pengeluaran yang cukup besar setiap kali ia mendatangi stasiun pengisian bahan bakar.

“Setiap kali mengisi bensin, saya merasa harus merogoh kocek setidaknya 10 dolar lebih banyak dibandingkan tarif normal yang biasa saya bayar,” kata David kepada AFP.

Pria yang berprofesi sebagai dokter anestesi ini mengaku bahwa secara finansial ia masih sanggup menanggung kenaikan tersebut. Meski demikian, ia kerap mendengar keluhan dari rekan-rekannya yang kini terpaksa membatasi frekuensi berkendara karena tidak lagi sanggup menutup biaya bensin.

Joseph Crouch (77) menjadi salah satu warga yang secara nyata mengubah gaya hidupnya akibat kebijakan harga yang dianggapnya tidak masuk akal. Ia kini membatasi penggunaan kendaraan pribadinya demi menghemat pengeluaran yang kian membengkak.

“Harga ini konyol dan sangat tinggi. Saya memandang pemerintah seolah kehilangan arah dan tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan,” gerutu Joseph menyikapi kondisi ekonomi saat ini.

Ia juga menyoroti bahwa masyarakat sipil adalah pihak yang paling menderita akibat konflik ini. “Kami yang menanggung konsekuensi perang ini. Mereka berusaha mengalihkan isu dengan alasan lain, padahal penyebabnya sudah sangat jelas, yaitu perang,” tegasnya.

Senada dengan Joseph, Fred Koester (78) melabeli perselisihan antara AS-Israel vs Iran sebagai sebuah “perang bodoh”. Ia menilai konfrontasi tersebut sama sekali tidak diperlukan lantaran hanya mendatangkan kesialan dan kerugian bagi rakyat Amerika Serikat sendiri.

Sejak meletus pada 28 Februari lalu, perang AS-Israel melawan Iran memang telah memicu krisis energi di skala global. Dampaknya terlihat jelas pada harga minyak mentah dunia yang berkali-kali menembus angka di atas US$100 per barel.

Dampak dari krisis ini kini dirasakan secara luas mulai dari kawasan Asia hingga Benua Eropa. Menanggapi situasi darurat ini, sejumlah negara mulai mengambil langkah mitigasi dengan menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home) serta mengimbau warga untuk memprioritaskan penggunaan transportasi publik.(*/cnni)

Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • Bazar UMKM Ramaikan APEKSI di Medan, PWPM Ikut Gerakkan Ekonomi Lokal
  • Laba Bersih PTPN IV PalmCo Melonjak 90 Persen Capai Rp7,08 Triliun pada 2025
  • HUT ke-436 Kota Medan: Stasiun Medan Layani 913 Ribu Pelanggan Selama Semester Pertama 2026
  • Pilihan Warna Baru New Honda BeAT Meluncur Simak Perubahan Desain dan Daftar Harganya
  • Kecelakaan Lalu Lintas di Tikungan Siahaan Toba Dua Mobil Terlibat Tabrakan dan Dua Pengemudi Dilarikan ke Rumah Sakit
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial

@ 2020 SeputarSumut.com