Jakarta, SeputarSumut — Eskalasi ketegangan di Timur Tengah pasca-serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran memicu respons strategis dari Eropa. Pemerintah Prancis secara resmi memutuskan untuk mengirimkan armada kapal induknya ke perairan Mediterania saat situasi kawasan masih membara.
Melalui pidato televisi yang disiarkan pada Selasa (3/3), Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan pengerahan kekuatan tempur laut tersebut secara langsung. Macron menegaskan bahwa dirinya telah memberikan instruksi khusus kepada kapal induk Charles de Gaulle, beserta seluruh aset udara dan kapal fregat pengawalnya, untuk segera berlayar menuju titik tujuan di Mediterania.
Dunia Internasional: Macron Kerahkan Kapal Induk Charles de Gaulle ke Mediterania di Tengah Konflik AS-Israel vs Iran
Sebelumnya, kapal induk Charles de Gaulle sempat berada di Atlantik Utara dan melakukan persinggahan di pelabuhan Malmo, Swedia, pada pekan lalu sebelum akhirnya ditarik menuju Mediterania Timur. Diperkirakan armada ini membutuhkan waktu sekitar 10 hari perjalanan untuk mencapai lokasi tujuan, dengan membawa kekuatan tempur berupa 20 unit jet Rafale serta dua pesawat radar Hawkeye yang difungsikan untuk pengamanan wilayah udara.
Langkah penguatan militer ini juga mencakup wilayah Siprus, di mana Macron mengonfirmasi pengiriman unit pertahanan udara tambahan ke negara tersebut. Selain itu, aset pertahanan udara lainnya beserta fregat Languedoc dijadwalkan tiba di lepas pantai Siprus pada hari Selasa guna memperkuat posisi Prancis di kawasan.
Terkait dinamika politik yang terjadi, Macron melontarkan kritik keras terhadap operasi militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Menurutnya, serangan yang menggempur hampir seluruh wilayah Iran tersebut dilakukan di luar koridor hukum internasional, sehingga pihak Prancis tidak dapat memberikan persetujuan atas tindakan tersebut.
Meski demikian, Presiden Prancis tersebut tetap menempatkan tanggung jawab utama atas krisis di Timur Tengah pada pundak Republik Islam Iran. Macron menyoroti beberapa poin krusial yang dianggap sebagai kesalahan Teheran, mulai dari program nuklir yang dinilai berbahaya, dukungan terhadap faksi-faksi proksi di regional, hingga tindakan represif terhadap demonstran pada Januari silam.
Kondisi di lapangan sendiri kian memanas setelah serangan brutal AS-Israel menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta keluarganya dan ratusan warga lainnya. Iran merespons dengan melakukan serangan balasan pada hari yang sama, yang kemudian dilanjutkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan menggempur aset-aset AS dan Israel pasca-pengumuman resmi kematian Khamenei.
Prancis sendiri sebelumnya telah menyiagakan jet tempur Rafale di atas Uni Emirat Arab guna memproteksi pangkalan Al Dhafra serta aset laut dan udaranya. Saat ini, Paris tercatat memiliki 700 tentara yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB (UNIFIL) dan 900 personel lainnya yang tersebar di berbagai pangkalan militer di Uni Emirat Arab.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean Noel Barrot, menegaskan bahwa mobilisasi pilot dan pesawat Rafale dilakukan sebagai langkah preventif. Hal ini bertujuan untuk menjamin keamanan seluruh fasilitas dan infrastruktur milik Prancis yang berada di tengah zona konflik tersebut.(*/cnni)


