Jakarta, SeputarSumut — Lembaga legislatif Korea Utara secara resmi mengukuhkan kembali posisi Kim Jong Un sebagai Presiden Urusan Negara. Kabar mengenai penunjukan ulang pemimpin tertinggi tersebut disiarkan langsung oleh media pemerintah pada Senin (22/3).
Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara menjadi institusi yang menetapkan kembali status kepemimpinan tersebut. Selama ini, badan legislatif itu dikenal publik internasional sebagai lembaga yang memberikan legitimasi formal atau ‘stempel’ terhadap seluruh keputusan strategis kepemimpinan di negara otoriter itu.
Dunia Internasional: Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara Kembali Tetapkan Kim Jong Un Sebagai Presiden Urusan Negara
Lembaga pembuat kebijakan paling tinggi di negara tersebut, yakni Komisi Urusan Negara, akan kembali dipimpin oleh Kim. Informasi ini dikonfirmasi oleh Korean Central News Agency (KCNA) yang menyebutkan bahwa jabatan tersebut tetap berada di bawah kendali sang pemimpin.
“Kamerad Kim Jong Un telah dipilih kembali sebagai Presiden Urusan Negara oleh Majelis Rakyat Tertinggi Republik Rakyat Demokratik Korea dalam sidang pertama masa jabatan ke-15 yang berlangsung pada 22 Maret,” tulis laporan KCNA sebagaimana dikutip dari AFP.
Pihak otoritas menyatakan bahwa hasil keputusan dalam sidang parlemen tersebut merupakan representasi dari suara masyarakat. Laporan itu menegaskan bahwa keterpilihan Kim mencerminkan “kehendak serta keinginan bulat dari seluruh rakyat Korea.”
Dinasti kepemimpinan di Korea Utara kini telah memasuki generasi ketiga di bawah komando Kim Jong Un sejak ia mengambil alih kekuasaan pada 2011 pasca wafatnya sang ayah, Kim Jong Il. Garis suksesi ini bermula dari kakeknya, Kim Il Sung, yang mendirikan negara tersebut pada tahun 1948 silam.
Potensi adanya amandemen konstitusi juga menjadi sorotan para analis dalam pelaksanaan sidang parlemen kali ini. Salah satu poin krusial yang diprediksi akan dimasukkan secara formal adalah perubahan status hubungan antar-Korea menjadi relasi antara “dua negara yang saling bermusuhan,” seiring dengan eskalasi ketegangan yang terus meningkat di Semenanjung Korea.(*/cnni)


