Medan, SeputarSumut — Pergerakan pasar keuangan di kawasan Asia pada sesi perdagangan hari ini menjadi sangat dipengaruhi oleh rilis data manufaktur Tiongkok yang mencatatkan ekspansi. Indeks Manufaktur atau Purchasing Managers Index Tiongkok yang bertengger pada level 50.3 langsung menjadi stimulus positif bagi mayoritas bursa saham regional hingga sukses ditransaksikan menguat pada pagi hari.
Ekonom Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa di luar sentimen positif dari Negeri Tirai Bambu tersebut, pergerakan pasar keuangan Asia relatif sepi dari agenda ekonomi besar lainnya. Namun, pergerakan beberapa indikator keuangan dari Amerika Serikat sebenarnya membuka ruang bagi pasar domestik untuk ikut menguat.
Berita Ekonomi: Manufaktur Tiongkok Ekspansi, Bursa Asia Menguat Saat IHSG dan Rupiah Justru Terpuruk
“Kinerja USD Index pada sesi perdagangan pagi ini cederung turun, yang membuka peluang Rupiah untuk menguat terhadap US Dolar,” ujarnya di Medan, Selasa 30 Juni 2026.
Meskipun mayoritas bursa saham di Asia bergerak variatif dengan kecenderungan menguat, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di dalam negeri justru mencatatkan koreksi pada bel pembukaan perdagangan. Indeks saham tanah air melemah ke posisi 5.801 karena para pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil posisi.
“Pelaku pasar keuangan di tanah air masih menanti keputusan S&P terkait peringkat hutang Indonesia yang akan tersaji dalam waktu dekat,” tuturnya.
Tekanan pada pasar keuangan domestik juga merembet ke sektor mata uang, di mana nilai tukar Rupiah terpantau melemah hingga menyentuh level 17.850 per Dolar AS pada perdagangan pagi. Gunawan Benjamin memproyeksikan pergerakan IHSG sepanjang hari ini akan berfluktuasi dalam rentang level 5.750 hingga 5.835, sementara mata uang Rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran 17.800 hingga 17.870 per Dolar AS.
Di sisi lain, pergerakan komoditas internasional menunjukkan harga emas dunia mengalami penurunan hingga diperdagangkan ke level 3.968 Dolar AS per ons troy, atau berkisar sekitar 2.3 juta Rupiah per gram. Pelemahan harga logam mulia ini didorong oleh meredanya tensi geopolitik seiring adanya dialog terbaru antara Amerika Serikat dan Iran.
“Harga emas tertekan oleh pembicaraan lanjutan antara Iran dengan AS yang berpeluang mendorong pelemahan laju tekanan inflasi,” pungkasnya.(Siong)


