Jakarta, SeputarSumut – Peran krusial guru dalam dunia pendidikan dipastikan tidak akan tergeser oleh keberadaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Menurutnya, meskipun teknologi terus berkembang, esensi mendidik yang dilakukan manusia tetap menjadi pilar utama yang tidak tergantikan.
Teknologi AI dinilai Abdul Mu’ti memiliki batasan fundamental yang membuatnya mustahil untuk mengambil alih seluruh spektrum pembelajaran yang selama ini dikelola oleh tenaga pendidik. Ia melihat AI hanya sebagai alat bantu yang tidak bisa menyentuh ranah emosional dan pedagogis secara utuh.
Lintas Nasional: Mendikdasmen: AI Tidak Akan Menggantikan Guru
“AI tetap merupakan teknologi yang tidak bisa menyelesaikan segalanya atau menggantikan segalanya,” ungkap Abdul Mu’ti saat memberikan paparan dalam seminar nasional bertajuk “AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua” di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (24/1), sebagaimana dikutip dari Antara.
Kemampuan AI dalam mengolah data serta menyajikan informasi secara instan memang diakui oleh sang Menteri. Kendati demikian, ia menggarisbawahi bahwa teknologi tersebut nihil pengalaman hidup, tanggung jawab moral, maupun dimensi kemanusiaan yang menjadi karakteristik utama seorang guru.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti memaparkan bahwa meski AI sanggup menyodorkan berbagai saran dan penjelasan teknis, perangkat tersebut tidak memiliki kesadaran untuk menjalani atau merasakan dinamika proses belajar layaknya manusia.
“AI bisa memberi nasihat dan menjelaskan banyak hal, tetapi AI tidak bertindak dan tidak mengalami,” jelasnya mengenai perbedaan mendasar antara mesin dan manusia.
Manusia sebagai operator tetap memegang kendali penuh atas pemanfaatan kecerdasan buatan di bidang apapun. Oleh karena itu, Abdul Mu’ti mengingatkan agar penguasaan teknologi dibarengi dengan nalar kritis supaya pengguna tidak mudah tertipu oleh data yang tidak akurat atau informasi yang menyesatkan.
“Kendalinya tetap berada pada manusia yang mengoperasikan alat tersebut,” tegas Mendikdasmen mengenai otoritas pengguna teknologi.
Sorotan juga diberikan pada aspek etika dalam penggunaan AI, khususnya di lingkungan digital yang sangat dinamis. Ia mengingatkan bahwa kinerja AI sangat bergantung pada validitas data yang diunggah ke dalamnya, sehingga akurasi informasi menjadi tanggung jawab yang sangat besar.
“Jika yang diunggah salah, maka AI juga akan menyajikan informasi yang salah,” tambahnya mengingatkan risiko misinformasi.
Mengenai arah kebijakan kurikulum, Abdul Mu’ti mengumumkan bahwa pengenalan AI dan coding sudah mulai diimplementasikan sebagai mata pelajaran pilihan bagi siswa sekolah dasar kelas V. Program ini dijalankan dengan skema bertahap sembari melakukan evaluasi terhadap kesiapan para pengajar dan ketersediaan fasilitas di satuan pendidikan.
Keseimbangan antara inovasi teknologi dan pelestarian nilai-nilai kemanusiaan harus tetap terjaga di tengah gempuran digitalisasi pendidikan. Guru diharapkan tetap berdiri di garda depan sebagai aktor utama yang bertugas membimbing, menanamkan etika, serta membentuk karakter kuat pada diri siswa.
“Aset manusia dan dimensi kemanusiaan tidak boleh terlepas dalam konteks AI,” tutup Abdul Mu’ti mengakhiri pernyataannya.(*/cnni)


