Jakarta, SeputarSumut — Gangguan susah buang air besar (BAB) atau sembelit sering kali menjadi keluhan utama para pemudik akibat adanya perubahan rutinitas yang drastis selama menempuh perjalanan jauh. Kondisi ini biasanya muncul ketika seseorang berpindah lokasi dalam waktu cepat, mengonsumsi jenis makanan yang berbeda, hingga harus menyesuaikan diri dengan jadwal serta lingkungan yang baru.
Masalah pencernaan ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat merusak kenyamanan momen perjalanan hari raya Anda. Mengutip penjelasan dari ahli gastroenterologi, Will Bulsiewicz, melalui laman EatingWell, sistem pencernaan manusia sangat bergantung pada ritme kebiasaan harian, sehingga perubahan sekecil apa pun saat bepergian dapat memicu gangguan fungsi usus.
Pernik Ragam: Mengatasi Sembelit Saat Mudik: Penyebab dan Tips Menjaga Pencernaan Selama Perjalanan
Berikut adalah beberapa faktor utama yang menyebabkan seseorang sulit buang air besar saat sedang dalam perjalanan mudik:
1. Terganggunya Ritme Alami Tubuh
Pergeseran jam biologis tubuh menjadi salah satu pemicu utama susahnya buang air besar bagi para pemudik. Dalam keadaan normal, tubuh memiliki jadwal BAB yang teratur, namun perjalanan panjang yang memicu kurang tidur dan perubahan jadwal aktivitas membuat ritme alami ini berantakan. Akibatnya, sinyal atau dorongan alami untuk ke belakang tidak muncul pada waktu yang seharusnya, terutama bagi mereka yang menempuh perjalanan lintas waktu.
2. Perubahan Pola Makan yang Drastis
Menu makanan saat mudik biasanya sangat berbeda dengan konsumsi sehari-hari, di mana pemudik cenderung memilih makanan cepat saji atau hidangan khas Lebaran yang tinggi lemak namun rendah serat. Sistem pencernaan memerlukan waktu ekstra untuk beradaptasi dengan jenis makanan berat tersebut. Kurangnya asupan sayur dan buah selama di jalan memperlambat pergerakan usus, yang pada akhirnya membuat tekstur feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
3. Kekurangan Asupan Cairan
Banyak pemudik yang secara sengaja membatasi minum air mineral selama di perjalanan dengan alasan malas mengantre di toilet umum atau menghindari frekuensi buang air kecil. Padahal, cairan memiliki peran krusial dalam melunakkan feses dan melancarkan proses pembuangan. Bulsiewicz menegaskan bahwa menjaga hidrasi tetap optimal sangat penting agar sistem pencernaan tetap bekerja dengan baik meskipun sedang bepergian.
4. Minimnya Aktivitas Fisik Selama di Kendaraan
Durasi duduk yang terlalu lama di dalam mobil, bus, kereta, maupun pesawat selama perjalanan mudik dapat menghambat kinerja sistem pencernaan. Kurangnya gerak tubuh secara fisik terbukti memperlambat kontraksi otot usus dalam mengolah sisa makanan. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi para pemudik untuk melakukan peregangan ringan atau berjalan-jalan sejenak saat kendaraan sedang berhenti di tempat istirahat (rest area).
5. Pengaruh Stres dan Kondisi Lingkungan
Faktor psikologis seperti kelelahan fisik dan stres akibat kemacetan panjang juga memiliki pengaruh besar terhadap kelancaran BAB. Selain itu, rasa enggan atau tidak nyaman menggunakan toilet umum di sepanjang jalur mudik sering kali membuat seseorang memilih untuk menahan keinginan buang air besar. Kebiasaan menunda ini justru menjadi penyebab utama sembelit semakin parah dan menyakitkan.
Secara keseluruhan, sulit BAB saat mudik merupakan dampak langsung dari perubahan gaya hidup sementara selama di perjalanan. Meskipun umum terjadi, gangguan ini sebenarnya dapat dicegah dengan tetap memperhatikan pola makan berserat, menjaga kecukupan air putih, dan tetap aktif bergerak. Dengan menjaga kesehatan pencernaan, perjalanan mudik ke kampung halaman akan terasa jauh lebih nyaman dan menyenangkan.(*/cnni)


