Jakarta, SeputarSumut — Gejala seperti tubuh yang mudah merasa letih, kesulitan dalam menjaga konsentrasi, hingga rasa tidak nyambung ketika sedang beraktivitas sering kali diabaikan oleh banyak orang. Padahal, tanda-tanda tersebut bisa menjadi indikator adanya masalah kesehatan yang lebih fundamental, yaitu defisiensi atau kekurangan zat besi dalam tubuh. Guna mencegah dampak buruk yang berkelanjutan, sangat penting bagi masyarakat untuk memahami dan rutin mengonsumsi berbagai jenis makanan yang kaya akan kandungan zat besi.
Permasalahan kekurangan zat besi ini nyatanya tidak hanya menyerang kategori usia anak-anak, namun juga lazim ditemukan pada kaum perempuan. Remaja putri dan wanita dalam usia produktif menjadi kelompok yang paling rentan mengalami anemia atau kondisi kurang darah. Jika dibiarkan, dampaknya dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan, mulai dari menurunnya stamina fisik, melemahnya kemampuan fokus, hingga terjadinya penurunan pada daya ingat otak.
Pernik Ragam: Mengenal Makanan Sumber Zat Besi Heme dan Non Heme untuk Atasi Anemia serta Sulit Fokus
Memenuhi asupan zat besi menjadi langkah krusial yang tidak hanya menunjang kesehatan tubuh secara fisik, tetapi juga memastikan fungsi kognitif otak tetap bekerja secara maksimal. Terkait hal ini, terdapat berbagai pilihan bahan makanan yang dapat diandalkan untuk mencukupi kebutuhan harian mineral penting tersebut.
Berdasarkan penjelasan dari dokter spesialis gizi, Luciana Sutanto, zat besi yang terkandung dalam asupan harian manusia diklasifikasikan menjadi dua kategori utama, yakni zat besi heme dan zat besi non-heme. Dalam pemaparannya di acara Indonesia Health Development Center (IHDC) Jakarta pada Rabu, 16 April lalu, ia menjelaskan bahwa heme bersumber dari bahan pangan hewani, sementara non-heme diperoleh dari sumber nabati atau tumbuhan. Ia menyarankan masyarakat untuk mengonsumsi keduanya secara lengkap dan bervariasi demi mendapatkan profil gizi yang optimal.
Perbedaan mendasar antara kedua jenis zat besi ini terletak pada efisiensi penyerapannya oleh sistem pencernaan tubuh manusia. Zat besi heme yang ditemukan pada daging dan produk hewan lainnya memiliki tingkat penyerapan yang cukup tinggi, yaitu di kisaran 25 hingga 30 persen. Di sisi lain, zat besi non-heme dari sayuran memiliki daya serap yang lebih kecil, yakni sekitar 1 hingga 10 persen saja. Meskipun berbeda efektivitas, kedua sumber ini tetap memiliki peran penting yang saling melengkapi dalam pola diet sehat.
Untuk sumber zat besi heme, masyarakat dapat memperolehnya melalui konsumsi daging merah, hati, serta daging unggas seperti ayam. Selain itu, bahan pangan dari laut seperti ikan, udang, dan kerang, serta telur dan susu formula yang telah melalui proses fortifikasi zat besi juga menjadi pilihan yang sangat efektif. Jenis asupan hewani ini dianggap lebih efisien dalam memitigasi risiko anemia karena sifatnya yang lebih mudah dimanfaatkan oleh tubuh.
Sementara itu, pilihan untuk zat besi non-heme mencakup beragam jenis sayuran dan buah-buahan. Bahan-bahan seperti brokoli, bayam, sayuran hijau lainnya, serta kacang-kacangan dan polong-polongan merupakan sumber nabati yang baik. Selain itu, kentang, kismis, apel kering, semangka, hingga produk sereal hasil fortifikasi juga dapat membantu menambah asupan zat besi harian meskipun tingkat penyerapannya lebih rendah.
Agar proses penyerapan zat besi di dalam tubuh berjalan secara maksimal, diperlukan bantuan dari vitamin C. Luciana menyarankan cara praktis berupa penggabungan menu harian, misalnya dengan menyantap lauk pauk tinggi zat besi bersamaan dengan buah jeruk atau sayuran segar yang kaya vitamin C. Sinergi antara zat besi dan vitamin C ini akan membantu tubuh mengekstraksi mineral tersebut dengan lebih baik.
Lebih lanjut, Luciana menekankan bahwa pemenuhan gizi yang baik tidak bertumpu pada satu jenis makanan super saja, melainkan pada keberagaman menu. Ia menegaskan pentingnya menerapkan prinsip gizi seimbang dengan mengonsumsi makanan yang bervariasi. Hal ini berarti tubuh tetap memerlukan perpaduan yang pas antara karbohidrat, protein, sayuran, dan buah-buahan setiap harinya.
Pada akhirnya, kesadaran akan pentingnya zat besi harus ditingkatkan karena efek kekurangannya sangat luas dan merugikan. Selain menjadi pemicu utama penyakit anemia, kondisi kekurangan zat besi juga terbukti berkaitan erat dengan penurunan ketajaman berpikir, gangguan daya ingat, serta merosotnya performa seseorang dalam belajar maupun bekerja. Dengan menjaga pola makan yang kaya zat besi, kesehatan jangka panjang dan fungsi otak yang cerdas dapat terus terjaga.(*/cnni)


