Jakarta, SeputarSumut — Aktivitas olahraga lari dapat dieksekusi kapan saja oleh setiap individu, baik pada waktu pagi hari sebelum mengawali rupa-rupa kesibukan maupun saat sore hari setelah menyelesaikan rutinitas pekerjaan. Kedua pilihan waktu tersebut terbukti sama-sama mendatangkan khasiat bagi kesehatan, namun masing-masing memiliki keunggulan tersendiri yang berbeda satu sama lain.
Variasi fungsional dari aktivitas lari pagi dan lari sore ini pada umumnya memiliki keterkaitan erat dengan sistem metabolisme, hormon, suhu tubuh, ritme sirkadian, hingga target olahraga yang ingin dicapai oleh masing-masing orang. Berlandaskan informasi yang dihimpun dari pelbagai sumber, berikut adalah rincian perbedaan manfaat antara lari pagi dan lari sore.
Pernik Ragam: Mengenal Perbedaan Manfaat Lari Pagi dan Lari Sore Bagi Kesehatan Tubuh
Mengenai indikator khasiat dari lari pagi, poin pertama yang menjadi keunggulan adalah jenis waktu ini cenderung lebih mudah untuk dibentuk menjadi sebuah kebiasaan atau rutinitas harian. Hal tersebut dikarenakan aktivitas olahraga dikerjakan sebelum agenda harian dimulai, sehingga potensi pembatalan akibat adanya urusan pekerjaan, rapat, ataupun agenda mendadak lainnya terhitung lebih minim.
Aspek kedua dari olahraga di pagi hari adalah kemampuannya dalam menopang perbaikan kualitas tidur seseorang. Kegiatan fisik pada pagi hari berpotensi membantu tubuh dalam menyelaraskan jam biologis atau ritme sirkadian, terlebih bila dilaksanakan di luar ruangan dengan paparan sinar matahari langsung yang membuat tubuh lebih peka dalam membedakan fase aktif dan fase istirahat.
Faktor ketiga berkaitan dengan potensi optimalisasi dalam proses pembakaran lemak di dalam tubuh. Agenda lari pagi yang dilangsungkan sebelum mengonsumsi sarapan sering kali dihubungkan dengan tingkat oksidasi lemak yang lebih tinggi. Menukil studi yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One, olahraga sebelum sarapan ditemukan dapat meningkatkan oksidasi lemak selama 24 jam. Dalam studi tersebut, pembakaran lemak tercatat sekitar 519±37 kilokalori per hari pada kelompok yang berolahraga sebelum sarapan, dibandingkan 400±41 kilokalori per hari pada kondisi tanpa olahraga.
Poin keempat dari manfaat lari pagi adalah kontribusinya dalam menjaga fokus serta kestabilan suasana hati atau ‘mood’ sepanjang hari. Ketika seseorang berlari, organ tubuh akan memproduksi zat kimia otak yang memicu stimulus rasa nyaman seperti endorfin, sehingga memicu efek tubuh terasa lebih segar, fokus, dan memiliki pasokan energi yang stabil.
Di sisi lain, terdapat pula bermacam kegunaan yang ditawarkan dari aktivitas lari sore. Indikator keunggulan yang pertama tertuju pada kondisi performa tubuh yang biasanya berada dalam level lebih optimal. Ketika memasuki waktu sore menjelang malam hari, indikator suhu tubuh cenderung berada pada angka yang lebih tinggi dan struktur otot sudah berada dalam kondisi siap lantaran tubuh telah aktif bergerak sepanjang hari. Mengutip dari Mayo Clinic, kemampuan olahraga pada sebagian orang dapat mencapai puncaknya pada sore hingga awal malam, termasuk dari sisi fungsi otot, kekuatan, dan daya tahan.
Karakteristik performa tubuh yang lebih siap di sore hari tersebut menjadikannya sangat cocok untuk memfasilitasi jenis latihan fisik dengan intensitas yang lebih tinggi atau intens. Sesi lari sore dinilai menyajikan rasa nyaman yang lebih baik ketika diaplikasikan untuk latihan kecepatan atau latihan cepat seperti interval ataupun ‘tempo run’. Studi ilmiah dalam jurnal Scientific Reports menjelaskan, performa latihan intensitas tinggi dapat dipengaruhi waktu dalam sehari, termasuk suhu tubuh, hormon, suasana hati, dan sistem sirkadian otot.
Kegunaan ketiga dari lari sore adalah perannya sebagai media yang efektif untuk melepaskan penat atau stres pasca-menyelesaikan rutinitas pekerjaan harian. Bagi kalangan pekerja, kegiatan fisik ini mampu menjadi instrumen untuk mengurai ketegangan saraf, menjernihkan pikiran, sekaligus memberikan jeda waktu sebelum beranjak menuju fase istirahat malam.
Khasiat keempat dari lari sore melibatkan parameter efisiensi energi yang dinilai bisa berjalan lebih baik. Sistem metabolisme tubuh memiliki kapasitas untuk bekerja dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi sewaktu aktivitas olahraga dilangsungkan pada sore ataupun malam hari, di mana hal ini menjadi alasan mengapa sebagian orang menganggap lari sore terasa lebih ringan walau mengusung jarak serta intensitas yang serupa dengan lari pagi.
Secara garis besar, penentuan waktu lari yang paling cocok tetap berlandaskan pada tujuan personal masing-masing individu. Apabila target yang ingin dicapai adalah untuk membenahi pola tidur, menurunkan berat badan, atau membangun konsistensi kebiasaan, maka lari pagi dapat diposisikan sebagai opsi yang lebih tepat. Sebaliknya, jika targetnya adalah untuk meningkatkan ‘pace’ kecepatan, mengejar performa maksimal, atau menerapkan latihan dengan intensitas berat, maka lari sore menjadi pilihan yang dinilai lebih ideal karena ditunjang oleh kondisi tubuh yang lebih siap.
Kendati demikian, unsur paling esensial yang wajib diutamakan dalam berolahraga adalah faktor konsistensi. Parameter waktu terbaik untuk melaksanakan olahraga lari bukan mutlak ditentukan oleh pilihan antara pagi atau sore hari, melainkan bertumpu pada ketersediaan waktu yang paling realistis untuk dieksekusi secara rutin dalam jangka panjang.(*/cnni)

