Jakarta, SeputarSumut — Melalui akun X resminya pada Minggu (22/3), Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyampaikan pesan khusus yang ditujukan kepada masyarakat dan pemerintah Indonesia. Ucapan selamat hari raya Idulfitri 1447 H tersebut dibarengi dengan apresiasi mendalam atas solidaritas yang ditunjukkan Indonesia terhadap Iran di tengah agresi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dukungan dari tiga negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi sorotan utama dalam pesan Araghchi tersebut. Ia secara terbuka mengungkapkan rasa terima kasih pemerintah Iran atas sikap tegas negara-negara tetangga yang berdiri bersama mereka dalam situasi sulit ini.
Dunia Internasional: Menlu Iran Sampaikan Ucapan Idulfitri dan Apresiasi Atas Solidaritas Indonesia
“Selamat Hari Raya Idulfitri. Terima kasih kepada pemerintah & masyarakat Muslim serta pencinta keadilan di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei) yang mengecam agresi brutal Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap bangsa Muslim Iran di bulan Ramadan serta menunjukkan solidaritas,” tulis Araghchi dalam unggahan resminya.
Kenyataan pahit harus dihadapi masyarakat Iran yang terpaksa merayakan hari kemenangan di bawah bayang-bayang serangan militer. Meski umat Islam sedang menjalani momen suci, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan tetap melanjutkan operasi serangan mereka tanpa menghiraukan suasana Idulfitri.
Fasilitas nuklir Natanz milik Iran menjadi sasaran serangan AS dan Israel tepat pada hari Sabtu (21/3), saat perayaan Idulfitri sedang berlangsung. Insiden ini menambah ketegangan di wilayah tersebut di tengah suasana hari besar keagamaan.
“Menyusul serangan kriminal oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis yang merebut kekuasaan terhadap negara kami, kompleks pengayaan Natanz menjadi sasaran pagi ini,” bunyi pernyataan resmi dari organisasi energi atom Iran sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Tasnim.
Situasi keamanan di Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda dari gempuran militer kedua negara tersebut. Memasuki hari Minggu (22/3), tensi justru semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump secara resmi mengeluarkan ultimatum keras yang ditujukan kepada pihak Iran.
Dalam ancamannya, Trump menuntut agar Iran segera membuka Selat Hormuz dalam tenggat waktu 48 jam. Jika instruksi tersebut diabaikan, Presiden Amerika Serikat itu mengancam akan melakukan tindakan ekstrem dengan menghancurkan berbagai infrastruktur pembangkit listrik di seluruh penjuru Iran.
Menanggapi tekanan tersebut, pihak Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur atau merasa gentar. Teheran melayangkan ancaman balasan kepada Trump dengan menyatakan kesiapan mereka untuk menyerang seluruh infrastruktur militer dan aset Amerika Serikat di Timur Tengah jika ancaman tersebut benar-benar dilaksanakan.(*/cnni)


