Medan, SeputarSumut — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto meresmikan Universitas Satya Terra Bhinneka di Jalan Sunggal Gang Bakul, Kota Medan, pada Senin, 29 Juni 2026. Peresmian kampus swasta yang mengusung konsep kolaborasi dan gotong royong ini menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya memajukan sumber daya manusia serta menghadirkan pendidikan multikultural yang inklusif di Indonesia.
Pembangunan gedung universitas megah ini berhasil diselesaikan dalam waktu 18 bulan berkat kegigihan, pengorbanan, dan gotong royong para donatur tanpa bergantung pada proposal formal. Kehadiran kampus ini menyatukan tiga pilar perjuangan hidup pendirinya, yakni pendidikan anak kurang mampu, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui program studi kependidikan, manajemen kehutanan, pertanian, serta bisnis digital.
Info Medan: Menteri Diktisaintek Resmikan Universitas Satya Terra Bhinneka di Medan Berkonsep Gotong Royong
“Gedung ini bukan sekadar pencapaian fisik, melainkan sebuah monumen yang merangkum visi besar, perjuangan, pengorbanan, dan kolaborasi untuk memajukan sumber daya manusia Indonesia,” ujar Prof. Brian Yuliarto.
Menteri Diktisaintek mengagumi sosok pendiri sekaligus pembina yayasan, Dr. Sofyan Tan, sebagai tokoh pejuang pendidikan nyata yang betul-betul terjun berjuang di lapangan. Kisah perjuangan tersebut dinilai sangat menginspirasi dan perlu dibukukan agar melahirkan tokoh-tokoh baru di seluruh Indonesia, serta dapat dicontoh oleh para pengelola perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya.
“Saya berencana mengundang Pak Sofyan Tan untuk mengisi forum pengelola perguruan tinggi—baik PTS maupun PTN agar kita semua bisa belajar dan menjadi optimis,” tuturnya.
Selain itu, Prof. Brian Yuliarto mengapresiasi kehadiran perpustakaan kampus dan mengusulkan agar fasilitas tersebut dibuka untuk masyarakat umum dengan menambahkan koleksi buku anak-anak. Ia juga menyarankan pembuatan diorama sejarah perjuangan pendirian kampus di lantai bawah gedung agar dapat dibaca dan menginspirasi setiap mahasiswa serta pengunjung yang datang.
“Kepada seluruh mahasiswa Universitas Satya Terra Bhinneka, manfaatkanlah peluang besar ini dengan sebaik-baiknya. Kami mendoakan semoga kampus ini semakin maju, semakin sukses, dan menjadi jembatan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk bertransformasi menjadi orang-orang yang berhasil,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Universitas Satya Terra Bhinneka, Dr. Sofyan Tan, menyampaikan rasa haru dan apresiasi mendalam atas kehadiran Menteri Diktisaintek yang terbang dari Jakarta menggunakan maskapai ekonomi Citilink penerbangan pertama demi menghadiri peresmian ini. Kehadiran tersebut dinilai sebagai bukti nyata kepedulian pemerintah terhadap kemajuan perguruan tinggi swasta di tanah air.
“Kesederhanaan dan komitmen kuat tekad Pak Menteri untuk hadir di tengah-tengah kita merupakan sebuah anugerah, sekaligus bukti nyata kepedulian beliau terhadap kemajuan perguruan tinggi swasta di tanah air,” jelasnya.
Dr. Sofyan Tan mengenang masa-masa sulit selama 38 tahun perjalanannya membangun institusi pendidikan, termasuk saat menghadapi tumpukan utang bank yang membengkak dari Rp60 juta hingga mencapai Rp1,2 miliar karena mayoritas siswanya berasal dari keluarga tidak mampu. Kunci keberhasilan melewati masa kritis tersebut tidak lepas dari bantuan para tokoh seperti Paidi Iska yang merelakan sertifikat tanahnya untuk diagunkan, serta dukungan moral dari sang istri, Elina.
“Beliau menegaskan bahwa yang paling penting dalam berjuang adalah memiliki visi dan misi yang jelas, serta tekad yang kuat untuk membangun pendidikan multikultural yang inklusif—bukan hanya melintasi perbedaan suku, agama, dan ras, melainkan juga merangkul semua tingkat sosial ekonomi masyarakat,” paparnya saat mengenang pesan mentornya, Almarhum Ir. Sarwono Kusumaatmadja.
Visi besar integrasi lingkungan dan ekonomi diwujudkan melalui Program Studi Manajemen Kehutanan dan Program Studi Pertanian demi melahirkan pusat riset unggul guna mencapai ketahanan pangan nasional. Kehadiran Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam peresmian ini diproyeksikan sebagai peluang besar untuk meningkatkan kerja sama riset, yang kemudian dilengkapi dengan Program Studi Bisnis Digital agar bernilai tinggi.
“Kita optimis, menyongsong Indonesia Emas tahun 2045, bangsa kita dapat menguasai ekonomi dan berada di urutan tujuh besar dunia. Sejalan dengan visi besar dari Pak Menteri, mudah-mudahan Universitas Satya Terra Bhinneka kelak mampu melahirkan anak-anak bangsa yang meraih penghargaan Nobel pada tahun 2045,” jelas Dr. Sofyan Tan.
Aksi gotong royong dalam pembangunan kampus ini melibatkan banyak pihak, seperti Darwo Lim yang mendonasikan Klinik Ibu dan Anak, Djonny Taslim yang menyumbangkan seluruh keramik, serta Tansri Chandra dan Iwan Hartono Alam yang membantu fasilitas teknologi komputer. Momentum peresmian ini juga diwarnai dengan gerakan menyumbang buku sebagai pengganti karangan bunga dari para undangan.
“Dari gerakan tersebut, terkumpul sebanyak 319 donatur yang menyumbangkan dana senilai Rp1,938 miliar, yang berhasil dikonversikan menjadi 15.718 eksemplar buku berkualitas untuk menghiasi perpustakaan kampus kita,” katanya.
Acara peresmian ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, antara lain Anggota Komisi X DPR RI Denny Cagur dan Maria Lestari, Wakil Menteri PPPA Veronica Tan, Wakil Kepala BRIN, Dirjen Diktisaintek, Kepala LLDIKTI Wilayah I, Konsul Jenderal Jepang, Konsul Jenderal Malaysia. Hadir pula jajaran kepala daerah serta rektor dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.(Siong)


