Jakarta, SeputarSumut — Struktur kepemimpinan tertinggi di Republik Islam Iran kini memasuki babak baru. Pada Senin (9/3), Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei, secara resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru untuk menggantikan posisi ayahnya.
Keputusan krusial ini diambil hanya berselang sepekan lebih setelah wafatnya Ali Khamenei. Sang mantan pemimpin diketahui tewas dalam serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, sebuah peristiwa yang memicu eskalasi konflik di Timur Tengah hingga detik ini.
Dunia Internasional: Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran Gantikan Sang Ayah
“Majelis Ahli, melalui suara yang menentukan, telah menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei untuk menjabat sebagai Pemimpin ketiga dalam sistem sakral Republik Islam Iran,” bunyi pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh majelis tersebut.
Selama ini, Mojtaba yang merupakan putra kedua Khamenei memang dikenal sebagai sosok dengan pengaruh besar di internal Iran. Ia diyakini memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang merupakan kekuatan militer paling dominan di negara tersebut.
Selain kedekatannya dengan IRGC, Mojtaba juga disebut-sebut memiliki hubungan erat dengan Basij, pasukan paramiliter sukarelawan Iran.
Menariknya, sebelum penunjukan ini, Mojtaba bukanlah seorang ulama dengan pangkat tinggi. Ia juga tercatat tidak pernah memegang peran atau jabatan resmi di dalam struktur pemerintahan Iran sebelumnya.
Mantan Direktur CIA, David Petraeus, memberikan tanggapan miring dengan menyebut terpilihnya Mojtaba sebagai “hal yang disayangkan”. Menurutnya, Mojtaba adalah sosok garis keras yang mengikuti jejak ayahnya, meski latar belakang keulamaannya tidak terlalu menonjol.
“Asumsi kami, ia akan meneruskan garis kebijakan ayahnya sebagai ulama ideologis garis keras,” ujar Petraeus dalam wawancara dengan CNN pada Minggu (8/3).
Lebih lanjut, Petraeus menyoroti status keagamaan Mojtaba yang baru saja dipromosikan. “Saya rasa dia bahkan bukan seorang Ayatollah, kecuali karena fakta promosi mendadak ini, yang sebenarnya juga dialami ayahnya saat terpilih beberapa dekade lalu,” tambahnya.
Harapan banyak pihak sebenarnya tertuju pada sosok pemimpin yang lebih pragmatis. Petraeus menyebut dunia berharap pemimpin baru Iran bersedia melunak terhadap tuntutan AS, khususnya terkait penghentian program rudal dan nuklir.
“Namun, saat ini tampaknya bukan itu yang terjadi. Kecuali jika nanti ia menunjukkan karakter yang berbeda setelah benar-benar memegang kendali kekuasaan,” pungkasnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga telah menyuarakan skeptisismenya terkait transisi kekuasaan ini. Senada dengan Petraeus, Trump menilai figur Mojtaba tidak ideal untuk memimpin Iran ke depan.
“Saya tidak bisa menerima putra Khamenei. Harapan kami adalah munculnya sosok yang mampu membawa harmoni serta perdamaian bagi Iran,” tegas Trump kepada Axios, Kamis (5/3).
Mengenai kriteria pemimpin yang diinginkan Gedung Putih, Trump sempat menjabarkannya dalam wawancara dengan CNN pada Jumat (6/3). Ia menginginkan pemimpin Iran yang adil, bijaksana, dan mampu menjalin kemitraan yang baik dengan AS, Israel, serta negara-negara Arab.
“Dibutuhkan pemimpin yang bisa bekerja dengan baik dan memperlakukan Amerika Serikat, Israel, serta mitra kami di Timur Tengah dengan adil. Mereka semua adalah rekan kita,” kata Trump.
Terkait latar belakang pemimpin Iran yang berasal dari kalangan ulama, Trump mengaku tidak mempermasalahkannya secara personal. Baginya, yang terpenting adalah sikap dan kebijakan yang diambil oleh pemimpin tersebut.
“Pemimpin agama bukan masalah bagi saya. Saya sering berurusan dengan banyak pemimpin agama dan mereka adalah orang-orang yang luar biasa,” tuturnya.
Reaksi yang jauh lebih agresif justru datang dari pihak Israel terkait suksesi ini. Militer Israel pada Minggu secara terbuka bersumpah akan menargetkan siapa pun yang menjadi pengganti Khamenei maupun pihak-pihak yang memfasilitasi penunjukan tersebut.
“Israel akan terus memburu siapa pun yang menjadi pengganti (Khamenei) serta mereka yang mencoba menetapkannya,” tulis pernyataan resmi militer Israel.
Menutup ketegangan tersebut, seorang pejabat Israel kepada CNN menyatakan keraguannya terhadap stabilitas domestik Iran. “Saya sangat ragu rakyat Iran ingin menukar satu Ayatollah dengan Ayatollah yang lainnya,” ujarnya.(*/cnni)


