Jakarta, SeputarSumut — Kelanjutan dialog diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat kini berada di titik nadir setelah putaran pertama perundingan berakhir tanpa kesepakatan. Pemerintah Iran dilaporkan tidak memiliki agenda untuk meneruskan negosiasi tersebut menyusul kebuntuan yang terjadi di meja perundingan.
Tuntutan penuh dari pihak Teheran menjadi harga mati yang harus dipenuhi oleh Washington jika ingin dialog tetap berjalan. Seorang sumber yang memiliki akses ke tim negosiasi mengungkapkan kepada kantor berita Fars bahwa Iran tetap pada pendiriannya agar seluruh keinginan mereka disetujui tanpa terkecuali.
Dunia Internasional: Negosiasi Iran AS Buntu Teheran Enggan Lanjutkan Perundingan Nuklir
Keputusan untuk tidak menjadwalkan pertemuan lanjutan telah dikonfirmasi oleh sumber internal pemerintah pada Minggu 12 April. Melalui media resmi pemerintah tersebut ia menegaskan bahwa saat ini tidak ada rencana konkret untuk menggelar putaran negosiasi berikutnya dalam waktu dekat.
Sikap tenang ditunjukkan Teheran dengan menyatakan bahwa mereka tidak dalam posisi terburu-buru untuk mencapai mufakat. Selama Amerika Serikat belum menyetujui poin-poin kesepakatan yang dianggap wajar Iran memastikan tidak akan ada perubahan kebijakan terkait status operasional di Selat Hormuz.
Kegagalan mencapai kata sepakat ini bermula dari pertemuan di Islamabad Pakistan yang berlangsung sejak Sabtu 11 April. Wakil Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran menampik poin-poin yang diajukan AS terutama mengenai penghentian total seluruh program nuklir milik Teheran.
Vance memberikan catatan kritis mengenai komitmen jangka panjang Iran dalam hal persenjataan nuklir. Ia mempertanyakan apakah ada niat mendasar dari Teheran untuk benar-benar menghentikan pengembangan senjata nuklir secara permanen karena hingga saat ini tanda-tanda tersebut belum terlihat meski harapan itu tetap ada.
Situasi ini diprediksi akan membawa dampak buruk bagi posisi Iran menurut pandangan Vance. Mengingat sebelum gencatan senjata berlangsung pada Rabu 8 April Donald Trump sempat mengeluarkan ancaman keras untuk menghancurkan peradaban Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
Meskipun tensi memanas Trump justru memberikan pernyataan yang kontradiktif pada Sabtu 11 April dengan mengaku tidak ambil pusing terhadap hasil perundingan tersebut. Ia merasa Amerika Serikat sudah berada di posisi pemenang sehingga hasil akhir negosiasi tidak akan memberikan pengaruh besar baginya.
Langkah diplomatik AS secara resmi terhenti saat Vance memutuskan untuk membawa seluruh delegasi kembali ke Washington. Kepulangan tim utusan ini memicu ketidakpastian besar mengenai kelangsungan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati oleh kedua negara.
Pihak Iran melalui Wakil Presiden Ataollah Mohajerani justru menilai kegagalan ini sebagai kerugian besar bagi Amerika Serikat. Ia menyampaikan kepada Fars bahwa kondisi mandeknya pembicaraan ini sebenarnya adalah berita yang lebih buruk bagi posisi Washington di mata internasional.
Mohajerani menuding AS mencoba menggunakan meja perundingan untuk meraih keuntungan yang gagal mereka dapatkan di medan tempur. Padahal menurutnya pihak Amerika yang menginisiasi negosiasi mengatur mediator hingga menyetujui sepuluh persyaratan awal yang diajukan oleh Iran.
Dampak dari kebuntuan ini dipastikan akan memukul sektor energi global secara signifikan. Tanpa adanya komitmen dari Iran untuk membuka kembali akses perdagangan secara normal pasokan minyak dunia akan terus mengalami gangguan.
Kendali penuh atas Selat Hormuz tetap berada di tangan Iran sebagai penutup dari ketegangan diplomatik ini. Pemerintah Iran menegaskan bahwa setiap kapal yang melintasi jalur strategis tersebut wajib mematuhi aturan mereka termasuk pembayaran biaya transit yang telah ditetapkan.(*/cnni)


