Medan, SeputarSumut — Penguatan yang konsisten berhasil ditunjukkan oleh kinerja pasar modal Indonesia pada tahun 2025 setelah melewati periode tahun politik di tahun sebelumnya. Terbentuknya stabilitas ini terlihat jelas dari meningkatnya aktivitas penerbitan efek serta besarnya minat perusahaan dalam memanfaatkan bursa sebagai sumber pendanaan jangka panjang.
Kepala Bursa Efek Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Sumatera Utara (BEI Sumut), M. Pintor Nasution, memberikan tanggapannya mengenai fenomena positif ini. Pada Rabu (04/02/2026), beliau menyatakan bahwa iklim investasi di dalam negeri semakin kondusif bagi pertumbuhan korporasi.
Berita Ekonomi: Pasar Modal 2025 Menguat Usai Tahun Politik
“Stabilitas ekonomi yang terjaga menjadi kunci utama bagi korporasi untuk berani melangkah di pasar modal. Kami melihat tren di tahun 2025 merupakan sinyal kuat bahwa kepercayaan pelaku usaha terhadap bursa sebagai sarana ekspansi terus meningkat,” ujar Pintor Nasution.
Berdasarkan data sepanjang tahun 2025, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil membukukan total penerbitan sebanyak 858 efek. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 26% jika dibandingkan dengan perolehan tahun 2024 yang hanya mencatatkan 680 penerbitan efek. Aktivitas pasar modal yang kembali bergerak aktif ini menjadi indikasi membaiknya sentimen ekonomi nasional.
Mengenai pencatatan saham perdana, terdapat 26 perusahaan yang resmi melantai di BEI sepanjang 2025. Sektor Basic Materials dan Consumer Non-Cyclicals tampil mendominasi dengan masing-masing mencatatkan 4 perusahaan. Sektor Basic Material menghimpun dana Rp5,1 triliun, sementara Consumer Non-Cyclicals membukukan Rp2,6 triliun, mencerminkan preferensi investor pada sektor yang memiliki fundamental solid.
Peningkatan kualitas emiten juga menjadi sorotan penting dalam periode tersebut. Rata-rata dana yang dihimpun melalui pencatatan saham melonjak drastis dari Rp348,7 miliar pada 2024 menjadi Rp696,1 miliar pada 2025. Hal ini menandakan bahwa perusahaan yang masuk ke bursa memiliki skala usaha yang lebih matang serta fundamental bisnis yang lebih kuat.
Pintor Nasution menambahkan bahwa tren positif ini tidak hanya terbatas pada saham, tetapi juga instrumen pendapatan tetap. “Bukan sekadar kuantitas, kualitas emiten yang masuk ke pasar modal kini jauh lebih matang. Hal ini membuktikan bahwa mekanisme pasar modal kita mampu menarik perusahaan-perusahaan dengan fundamental bisnis yang kredibel,” tambahnya.
Hingga 31 Desember 2025, aktivitas obligasi dan sukuk mencatat sejarah baru dengan total 181 emisi dari 79 perusahaan. Dana yang terhimpun mencapai Rp216,64 triliun, yang merupakan angka tertinggi sepanjang masa (all time high). Sektor keuangan menjadi penyumbang terbesar dengan 40 emisi senilai Rp125,59 triliun.
Kesiapan perusahaan untuk melantai di bursa tetap memerlukan persiapan yang sangat matang, terutama pada aspek keuangan, tata kelola (GCG), struktur organisasi, dan kepatuhan regulasi. Selain itu, faktor eksternal seperti dinamika ekonomi global tetap menjadi pertimbangan penting bagi calon emiten.
BEI terus berupaya mendukung peningkatan kualitas calon emiten melalui berbagai program pembinaan, termasuk IDX Incubator. Program ini saat ini tengah membuka pendaftaran seleksi hingga 8 Maret 2026 guna membantu perusahaan memperkuat kesiapan bisnis sebelum melakukan Initial Public Offering (IPO).
Listyorini Dian Pratiwi, Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, menekankan bahwa IDX Incubator bertujuan memastikan perusahaan memiliki pemahaman regulasi yang memadai. Dengan fondasi yang kuat, diharapkan perusahaan tercatat dapat tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Memasuki tahun 2026, peluang bagi perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal diprediksi akan semakin terbuka lebar. Dengan kondisi pasar yang relatif stabil dan kualitas emiten yang semakin baik, pasar modal Indonesia siap menjadi ekosistem yang inklusif serta berkelanjutan bagi para investor dan pelaku usaha.(Siong)

