Jakarta, SeputarSumut — Negosiator Amerika Serikat dan Iran berhasil mencatatkan perkembangan progresif dalam pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di Doha, Qatar. Pertemuan lanjutan antarkedua negara dijadwalkan bakal bergulir kembali setelah prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari mengungkapkan bahwa capaian positif dalam dialog tersebut tidak terlepas dari hasil pertemuan bulan lalu di Swiss yang membahas mengenai teknis implementasi Nota Kesepahaman atau MoU.
Dunia Internasional: Pembicaraan Tidak Langsung di Doha Capai Kemajuan Positif, AS dan Iran Siap Lanjutkan Dialog Usai Pemakaman Khamenei
“Para mediator Qatar & Pakistan menyelesaikan pertemuan terpisah dengan para negosiator AS & Iran di Doha hari ini, dengan kemajuan positif yang dicapai pada isu-isu terkait Nota Kesepahaman Islamabad, berdasarkan hasil KTT Danau Lucerne,” tutur Ansari seperti dilansir kantor berita AFP pada Kamis, 2 Juli 2026.
Dialog intensif ini dipastikan akan terus bergulir dalam waktu dekat demi menindaklanjuti poin-poin kesepakatan yang telah dibahas oleh kedua belah pihak.
“Para pihak sepakat untuk melanjutkan pembicaraan selama periode mendatang, dengan pertemuan selanjutnya dijadwalkan sesegera mungkin setelah prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran,” jelas Ansari kemudian.
Pada kesempatan terpisah, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi menjelaskan bahwa agenda utama di Doha berfokus pada eksekusi memorandum, termasuk menyoroti sejumlah tindakan Amerika Serikat yang dinilai melanggar kesepahaman.
Gharibabadi memerinci bentuk pelanggaran tersebut mencakup ketidakpatuhan terhadap komitmen Klausul 1 memorandum mengenai penghentian perang di Lebanon, adanya laporan terkait upaya Washington memperkuat armada militer serta pasukan di kawasan tersebut, hingga pernyataan bernada ancaman dan intervensi dari pejabat Amerika Serikat.
Adapun dokumen MoU antara Iran dan Amerika Serikat ini sebelumnya telah ditandatangani secara elektronik pada 18 Juni oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump, dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang bertindak langsung sebagai pihak mediator.(*/dtk)


