Jakarta, SeputarSumut – Upaya pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban terdampak bencana tanah longsor di Kampung Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, telah menginjak hari ketujuh pada Jumat (30/1). Seluruh personel gabungan masih terus bekerja keras menyisir area yang tertimbun material tanah guna mengevakuasi warga yang dilaporkan hilang.
Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii selaku Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menegaskan komitmennya untuk tidak menghentikan pencarian. Beliau memastikan bahwa operasi SAR akan tetap berjalan secara konsisten hingga seluruh daftar korban yang tertimbun berhasil ditemukan dan dievakuasi.
Lintas Nasional: Pencarian Korban Longsor Cisarua Masuki Hari Ke-7
Kepastian berlanjutnya operasi ini diutarakan Mohammad Syafii saat memberikan keterangan pers di Posko Basarnas Cisarua. Berdasarkan hasil evaluasi kolektif bersama pemerintah daerah, BNPB, Forkopimda, serta Pemerintah Provinsi, kondisi cuaca pada hari ketujuh ini dinilai sangat kooperatif bagi petugas di lapangan.
“Kami bersyukur cuaca sejak pagi tadi hingga sore hari ini sangat kondusif bagi kelancaran operasi SAR. Pada hari ini saja, kami sudah berhasil mengevakuasi lima kantong jenazah yang segera kami teruskan kepada tim DVI untuk proses identifikasi,” tutur Syafii.
Jika diakumulasikan, total kantong jenazah yang telah dievakuasi tim gabungan sejak dimulainya pencarian kini telah mencapai 60 body pack. Di sisi lain, tim DVI Polri melaporkan bahwa hingga detik ini, terdapat 44 jenazah yang identitasnya sudah terverifikasi secara akurat dan telah dikembalikan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Terkait statistik korban, Syafii memaparkan bahwa pada laporan tahap awal, jumlah warga yang dinyatakan hilang sebanyak 20 orang. Namun, angka tersebut terus bergerak dinamis seiring dilakukannya asesmen lapangan yang mendalam oleh Incident Commander (IC), Search Management Cell (SMC), dan tim DVI.
“Awalnya tercatat ada 113 jiwa dari 34 kepala keluarga yang terdampak. Namun, data terkini menunjukkan perkembangan signifikan menjadi 158 warga yang dilaporkan hilang dari total 35 kepala keluarga. Dinamika data seperti ini memang lumrah terjadi dalam operasi darurat di lapangan,” jelasnya secara rinci.
Kendati harus berhadapan dengan stabilitas cuaca yang buruk serta medan yang sangat sulit, Basarnas memastikan bahwa operasi ini tidak akan berhenti. Pencarian dilakukan secara bergantian selama 24 jam penuh dengan dukungan BNPB yang menerapkan teknologi modifikasi cuaca guna menekan potensi curah hujan di lokasi bencana.
“Meskipun faktor cuaca dan medan masih menjadi tantangan besar, perjuangan kami belum berakhir. Masa tanggap darurat telah ditetapkan selama 14 hari, dan kami menaruh harapan besar agar seluruh korban bisa ditemukan sebelum periode tersebut usai,” kata Syafii.
Guna menutup keterangannya, beliau mengharapkan partisipasi doa serta dukungan moral dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Hal ini penting untuk menjaga semangat para relawan dan memberikan kepastian hukum serta batin bagi keluarga yang tengah menanti kabar anggota keluarga mereka.
“Kami akan terus berada di sini selama harapan untuk menemukan korban masih ada. Mohon doa restunya agar seluruh rangkaian proses evakuasi ini dapat berlangsung dengan aman dan lancar hingga tuntas,” pungkasnya.(*/cnni)


