Jakarta, SeputarSumut – Jumlah warga yang terpaksa mengungsi akibat terjangan banjir bandang di Muaro Pisang Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, kini dilaporkan meningkat hingga mencapai 428 orang oleh BPBD Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Berdasarkan keterangan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghafur, di Lubuk Basung pada Jumat (2/1), terdapat penambahan jumlah pengungsi dari yang sebelumnya hanya 314 jiwa menjadi 428 jiwa.
Lintas Nasional: Pengungsi Banjir Bandang Maninjau Jadi 428 Orang
Lonjakan ini terlihat dari jumlah keluarga yang terdampak, di mana sebelumnya hanya tercatat 100 kepala keluarga, namun membengkak menjadi 160 kepala keluarga setelah banjir susulan kembali menerjang pada Kamis (1/1).
Para warga kini menempati sejumlah titik pengungsian seperti mushala, gedung pemerintahan, hingga rumah kerabat, lantaran hunian mereka mengalami kerusakan parah dan berada di zona merah sepanjang aliran Sungai Muaro Pisang.
“Tercatat sebanyak empat unit rumah, tiga unit warung, serta dua unit penginapan mengalami kerusakan berat akibat musibah ini,” jelas Abdul Ghafur dalam pernyataannya.
Kawasan Pasar Maninjau di Kecamatan Tanjung Raya memang diakui sudah beberapa kali dilanda banjir bandang serupa yang disebabkan oleh meluapnya debit air Sungai Muaro Pisang.
Bencana ini bermula pada Rabu (31/12) malam saat tebing di Kelok 25, Jorong Kuo Tigo Koto, Nagari Matua Mudik, Kecamatan Matur longsor dan materialnya menutup serta menyumbat aliran sungai utama.
Penyumbatan tersebut memaksa air sungai mencari jalur aliran baru menuju arah Simpang Maninjau dengan membawa material berupa lumpur serta bebatuan besar.
Dampaknya sangat fatal, di mana empat rumah, tiga warung, dan dua penginapan warga dilaporkan rusak berat akibat hantaman material banjir bandang pada Rabu (31/12) malam tersebut.
“Selain merusak bangunan, material banjir juga menimbun jalan provinsi yang menghubungkan Lubuk Basung-Bukittinggi sepanjang 30 meter dengan ketinggian satu meter, sehingga akses jalan terputus total,” tambahnya.
Sejak Jumat (2/1) pagi, alat berat telah diterjunkan untuk membersihkan timbunan material di badan jalan, sementara pantauan dari Kelok 9 hingga Kelok 25 menunjukkan sudah tidak ada lagi material longsor yang menyumbat Sungai Muaro Pisang.(*/cnni)


