Jakarta, SeputarSumut – Indonesia dan Tiongkok terus memperkuat komitmen penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam perdagangan dan investasi bilateral. Skema ini dinilai memberikan manfaat nyata, seperti biaya konversi yang lebih rendah dan dukungan terhadap stabilitas keuangan.
Hal ini mengemuka dalam pertemuan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dan Gubernur People’s Bank of China (PBoC), Pan Gongsheng, di Beijing, Kamis (11/09).
Berita Ekonomi: Perkuat Kerja Sama, Transaksi Mata Uang Lokal Indonesia-Tiongkok Tembus Rp100 Triliun
Pada periode Januari–Juli 2025, nilai transaksi LCT Indonesia–Tiongkok telah mencapai setara 6,23 miliar dolar AS, meningkat dari setara 2,17 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dikonversi, angka tersebut mencapai sekitar Rp100 triliun.
Gubernur Perry menyampaikan keyakinannya bahwa partisipasi pelaku usaha dan kerja sama ekonomi kedua negara akan terus meluas. “Langkah ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi bilateral dan membangun ekosistem keuangan yang lebih terhubung, aman, dan inklusif,” ujarnya.
Senada, Gubernur Pan dari PBoC menekankan bahwa sebagai dua negara berkembang di Asia, Tiongkok dan Indonesia memiliki tanggung jawab bersama dalam menghadapi dinamika global. Ia menyebut, penguatan kerja sama ini sangat penting karena hubungan dagang dan investasi keduanya dibangun di atas fondasi keuangan yang solid.
Komitmen penguatan LCT dengan Tiongkok ini sejalan dengan capaian Indonesia dengan negara mitra lain. Pada periode yang sama, realisasi transaksi LCT Indonesia dengan Malaysia, Thailand, dan Jepang juga terus menunjukkan peningkatan.
Pada kesempatan yang sama, BI dan PBoC juga melakukan uji coba terbatas (sandbox) konektivitas pembayaran QRIS antarnegara. Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari komitmen kedua bank sentral untuk memperkuat konektivitas pembayaran lintas batas.
Kegiatan ini melibatkan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) bersama mitra industri pembayaran dari Tiongkok, UnionPay International. Inisiatif ini tidak hanya mempercepat kemajuan teknologi, tetapi juga mendukung inklusi dan akses yang lebih luas terhadap layanan keuangan.(*/LBI)

